EDITORIAL :
Agus Pamuji
———
Alfaqir kali ini menurunkan editorial khusus bertajuk “Geger di Republik PBNU”.
Belakangan, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) kembali mencuat ke permukaan publik dan memantik reaksi pro–kontra luas. Bukan karena perbedaan pandangan keagamaan ataupun strategi dakwah, melainkan perseteruan dua tokoh sentral PBNU yang menjadi sorotan: Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) dan Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar.
Organisasi Islam terbesar di Indonesia dengan pengikut sekitar 80 juta warga nahdliyyin ini seolah seperti air bak yang tumpah, membasahi seluruh tubuh karena daya tampungnya tak lagi mampu membendung muatan kepentingan yang begitu besar.
Konflik elite telah menyeret NU ke dalam pusaran perebutan pengaruh, akses kekuasaan, dan legitimasi politik.
Padahal, kedua tokoh tersebut adalah pemegang amanah Muktamar NU untuk bersama-sama menjalankan roda organisasi, menjaga marwah, membimbing, mengayomi dan meneladani puluhan juta jamaah NU di tanah air maupun luar negeri. Ironisnya, ruang spiritual organisasi yang seharusnya steril dari ambisi duniawi kini justru digelayuti aroma rivalitas kepentingan sehingga khittah perjuangan perlahan kabur di balik tirai kompetisi elite.
Pertarungan Argumen: Dua Wajah yang Saling Bertolak
Gus Yahya berargumen bahwa: Rais Syuriyah PBNU tidak memiliki kewenangan untuk memberhentikan ketua umum PBNU. Keputusan rapat Harian Syuriyah tidak memiliki legal standing sehingga tidak dapat mengajukan pemberhentian ketua umum.
Sementara di sisi lain, Rais Aam KH Miftachul Akhyar menilai : Terdapat pelanggaran etika terkait kegiatan Akademi Kepemimpinan Nasional NU (AKN NU) dengan Zionis Internasional. Ketua Umum PBNU dianggap tidak menjaga marwah ajaran Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyah dan bertentangan dengan muqaddimah Qonun Asasi NU (Tempo, 24 November 2025).
Pertanyaannya kini: Apa jadinya bila lembaga yang seharusnya menjadi pelindung moral justru menjadikan politik sebagai ruh penggeraknya?
Dampaknya, umat menjadi penonton dari kegaduhan elite. Konflik ini menyisakan dampak serius, yaitu umat di tingkat akar rumput menjadi bingung dan terbelah. Kebanggaan warga NU terhadap tradisi, ketaatan, persaudaraan, dan kebersamaan mulai terguncang.
Keteduhan yang selama ini menjadi identitas NU tergerus oleh narasi saling serang, penggiringan opini, dan manuver kekuasaan. Di saat bangsa membutuhkan NU sebagai peneduh batin, penunjuk solusi, dan jangkar moral, yang terdengar justru dentuman konflik internal yang tak kunjung padam.
PBNU: Dari Mercusuar Moral ke Arena Perebutan Pengaruh ?
PBNU sejatinya tidak didirikan untuk menjadi arena laga para petualang kekuasaan.
Amanah para muassis NU — Hadratussyaikh Mbah Hasyim Asy’ari, Mbah Wahab Chasbullah, Mbah Bisri Sansuri, Mbah Kholil Bangkalan — bukanlah mengejar pengaruh temporal, melainkan menjaga martabat umat dan menegakkan nilai kemanusiaan.
Ketika simbol, struktur organisasi, dan jaringan kultural NU dipertaruhkan demi ambisi kekuasaan, sesungguhnya yang kita saksikan adalah: degradasi sosial–spiritual yang mencederai ruh perjuangan para pendahulu. Jalan pulang, menang bukan menundukkan, melainkan memulihkan.
Kini, umat tidak sedang menunggu siapa pemenang konflik, tetapi siapa yang mampu memadamkan api pertikaian dan mengembalikan NU pada khittahnya sebagai penjaga akhlak sosial bangsa.
Kemenangan sejati bukan ketika satu kubu berhasil meruntuhkan kubu lain, tetapi ketika: NU kembali menjadi payung besar bagi seluruh warganya, bukan hanya elite tertentu. Karena itu, ego dikesampingkan, dan amanah umat dijunjung lebih tinggi dari ambisi politik.
Tabayyun, musyawarah dan kesediaan saling mendengar kembali menjadi budaya organisasi. Harapan umat sederhana, dua tokoh besar PBNU duduk bersama, membuka hati, bertafakkur, dan menyudahi konflik dengan jiwa besar.
Tepat sebagaimana pesan penting Ketua PCNU Kabupaten Jombang Gus Fahmi yang mengingatkan seluruh pengurus NU di Jombang untuk tetap fokus menjalankan program organisasi serta amaliah ibadah, tanpa terjebak turbulensi politik elite di tingkat pusat.
Semoga editorial ini dapat menjadi kontribusi positif pemikiran, pengingat moral, sekaligus suara hati warga NU yang menginginkan rumah besar ini kembali menjadi tempat yang teduh, damai, dan mempersatukan.(*)
Penulis:
Wartawan dan Wapimred media siber online Nusa-Antara.com
Kader NU non-struktural (PKPNU Angkatan II, 2017 – Balikpapan, Kaltim)
Mantan Wakil Ketua Tanfidziyah Ranting NU Kelurahan Damai Bahagia, Balikpapan Selatan, Kaltim — tahun 2016.

















