Peringatan Maulid Nabi di Kauman Penuh Khidmat, Si Bocil Bikin Kocak, Jawab Pertanyaan Sang Kiai Dapat Uang Saku Rp50 Ribu

JOMBANG MEDIA NUSA-ANTARA.com — Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Musala Baiturrohim, Kampung Kauman Utara Gang 2, Desa Jombang, Kabupaten Jombang, Senin malam (14/9/2026), berlangsung khidmat dan penuh nuansa religius.

Namun, suasana pengajian yang semula berlangsung serius itu beberapa kali pecah oleh guyonan segar KH Asrori Maksum. Bahkan, tingkah spontan seorang bocah kecil atau bocil yang hadir di tengah jamaah membuat suasana semakin cair dan mengundang tawa.

Rangkaian peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW tersebut diisi lantunan shalawat Grup Rebana Ibu-Ibu Kauman, sambutan Ketua Takmir Musala Baiturrohim Ustaz H. Imam Purnomo, Mahallul Qiyam sebagai bentuk penghormatan kepada Baginda Nabi Muhammad Rasulullah SAW, kemudian dilanjutkan ceramah agama oleh KH Asrori Maksum dari Perak, Jombang.

Dalam sambutannya, Imam Purnomo menyampaikan rasa syukur karena jamaah masih dapat berkumpul dalam momentum peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang rutin digelar setiap tahun.

Menurutnya, peringatan Maulid Nabi bukan sekadar tradisi keagamaan, tetapi juga menjadi momentum untuk menumbuhkan kecintaan kepada Rasulullah SAW sekaligus kembali mempelajari keteladanan beliau.

“Melalui ajaran Nabi Muhammad SAW, kita bisa membedakan mana yang hak dan mana yang batil, mana yang baik untuk kita jalani dan mana yang harus kita hindari,” tuturnya.

Imam juga menyampaikan terima kasih kepada KH Asrori Maksum yang akhirnya dapat hadir memberikan tausiyah di tengah jamaah Musala Baiturrohim.

Ia mengatakan, pihak takmir sebenarnya sudah beberapa kali berupaya menghadirkan KH Asrori dalam peringatan Maulid Nabi. Namun, beberapa kesempatan sebelumnya selalu bertepatan dengan agenda lain.

“Alhamdulillah, malam hari ini beliau bisa hadir di tengah-tengah kita. Insyaallah kehadiran beliau akan memberikan pencerahan kepada kita semuanya,” ujar Imam yang sehari-hari mengajar di SMK Negeri 2 tersebut.

Apresiasi juga disampaikan kepada seluruh panitia, pengurus takmir, dan jamaah yang selama ini mendukung berbagai kegiatan keagamaan di Musala Baiturrohim.

Secara khusus, Imam memberikan penghargaan kepada ibu-ibu yang telah berlatih dan membawakan lantunan shalawat dalam rangkaian acara.

“Kami berharap kegiatan bershalawat dan berbagai aktivitas keagamaan di lingkungan musala terus dikembangkan sebagai sarana memperkuat kebersamaan dan kerukunan antarwarga,” harapnya.

Keteladanan Rasulullah dalam Kehidupan Sehari-hari

Sementara itu, dalam ceramah yang berlangsung sekitar satu jam, KH Asrori Maksum mengupas pentingnya menjadikan Nabi Muhammad SAW sebagai teladan utama dalam menjalani kehidupan.
Menurutnya, keteladanan Rasulullah SAW tidak hanya berkaitan dengan ibadah, tetapi juga mencakup kehidupan keluarga, aktivitas ekonomi, hubungan bertetangga, hingga cara memperlakukan sesama manusia.

Allah SWT, lanjut Asrori, telah menegaskan kemuliaan akhlak Rasulullah SAW dalam firman-Nya:
“Wa innaka la’ala khuluqin ‘azhim.”
Artinya, “Sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang agung.”

Karena itu, menurut Asrori, momentum Maulid Nabi semestinya tidak berhenti pada kegiatan seremonial maupun lantunan shalawat. Lebih dari itu, Maulid harus menjadi kesempatan bagi umat Islam untuk bercermin dan bertanya kepada diri sendiri sejauh mana akhlak Rasulullah telah diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Dakwah KH Asrori berlangsung serius namun sesekali diselingi guyonan segar. Cara tersebut membuat jamaah yang berjumlah ratusan orang tetap antusias mengikuti ceramah hingga akhir.

“Sudah ada mulai kakinya ditekuk, ada yang selonjoran, ada yang sambil merokok. Itu tandanya mulai ngantuk,” kelakar KH Asrori sambil tersenyum. Guyonan tersebut sontak disambut tawa jamaah.

Ia kemudian menjelaskan bahwa Rasulullah SAW tidak pernah membeda-bedakan manusia berdasarkan status sosial.

Nabi Muhammad SAW, kata Asrori, tidak memilih-milih orang ketika memenuhi undangan. Orang kaya maupun orang miskin tetap dihormati dan diperlakukan dengan baik.

Pesan tersebut kemudian dikaitkan dengan kehidupan masyarakat saat ini. Umat Islam diingatkan agar tidak memiliki kebiasaan menghormati seseorang hanya karena kekayaan atau kedudukannya, sementara meremehkan mereka yang hidup sederhana.

“Akhlak Rasulullah justru mengajarkan kesetaraan dalam memuliakan sesama,” tandasnya.

Dari Shalawat Menuju Akhlak Mulia

Ceramah KH Asrori juga mengajak jamaah memahami bahwa kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW tidak cukup hanya diwujudkan melalui lantunan shalawat.
Shalawat, menurutnya, harus menjadi pintu untuk semakin mengenal Rasulullah SAW, mencintai beliau, kemudian berusaha mengikuti akhlak mulia yang telah dicontohkan dalam kehidupan.
Suasana majelis pun beberapa kali kembali diwarnai lantunan shalawat yang diikuti jamaah.
Di tengah suasana tersebut, terjadi momen spontan yang membuat suasana pengajian semakin cair.

Seorang bocah kecil yang duduk di deretan tengah, tepat di depan panggung bersama sekitar sepuluh teman sebayanya, berkali-kali mengangkat jari tangan ke arah KH Asrori. Ia bahkan sempat menyela ceramah yang masih berlangsung.

Tingkah polos dan keberanian bocah tersebut akhirnya menarik perhatian sang kiai.
KH Asrori kemudian memanggilnya untuk naik ke atas panggung.

“Reneo le, naik panggung. Tak takoki jenengmu sopo, sekolahmu ndok endi. Coba, hapal gak doa untuk orang tua” ujar KH Asrori dengan bahasa Jawa, yang artinya, “Sini nak, naik ke panggung. Saya tanya namamu siapa, sekolahmu di mana dan bacakan doa untuk orang tua.

Tanpa ragu, bocah tersebut segera beranjak dari tempat duduknya menuju panggung dan mendekati sang kiai.

Beberapa pertanyaan yang dilontarkan KH Asrori dijawabnya dengan polos penuh percaya diri.
Melihat keberaniannya, KH Asrori kemudian memberikan uang saku kepada bocah tersebut.

“Karena kamu pintar menjawab, ini bapak kasih uang saku sekolah Rp50 ribu,” kata KH Asrori.
Bocah itu pun langsung terlihat gembira.
Setelah turun dari panggung, ia kembali menuju tempat duduknya bersama teman-teman sebayanya. Sesekali uang kertas Rp50 ribu pemberian sang kiai itu diperlihatkan kepada jamaah di sekitarnya.

Aksi spontan tersebut kembali mengundang tawa ringan jamaah.
“Anaknya siapa itu ya, mentalnya kok pede banget. Pintar lho anak itu,” celetuk salah seorang jamaah.
Momen tersebut menjadi warna tersendiri dalam peringatan Maulid Nabi. Di tengah suasana religius yang khidmat, kehadiran anak-anak dengan kepolosan dan keberanian mereka justru membuat majelis terasa lebih hangat dan akrab.

Setelah itu, KH Asrori kembali melanjutkan tausiyahnya.

Ia mengingatkan bahwa kehidupan manusia pada akhirnya akan berhadapan dengan suatu hari ketika hubungan dan kepentingan duniawi tidak lagi menjadi sandaran.
Pada saat itu, manusia sangat membutuhkan rahmat Allah SWT dan berharap mendapatkan syafaat Nabi Muhammad SAW.

Karena itu, sejak sekarang umat Islam diajak memperbanyak amal kebaikan, memperbaiki diri, serta menjaga akhlak dalam kehidupan sehari-hari.

Pesan Keras untuk Anak, Jangan Sakiti Hati Orang Tua

Salah satu bagian yang paling menyentuh dalam ceramah KH Asrori adalah nasihat tentang kewajiban berbakti kepada kedua orang tua.
Ia secara khusus mengingatkan generasi muda agar tidak pernah menyakiti hati bapak dan ibu, terlebih sampai melakukan kedurhakaan.
Asrori mengutip firman Allah SWT dalam Surah Al-Isra ayat 23:
“Wa qadha rabbuka alla ta’budu illa iyyahu wa bil-walidaini ihsana.”
Ayat tersebut menegaskan perintah untuk menyembah Allah SWT dan berbuat baik kepada kedua orang tua.

Menurutnya, hubungan antara anak dan orang tua harus senantiasa dijaga dengan kasih sayang. Terlebih ketika orang tua telah memasuki usia lanjut dan semakin membutuhkan perhatian dari anak-anaknya.

“Belajar menjadi anak, belajar menjadi orang tua,” menjadi salah satu pesan yang ditekankannya kepada jamaah.

Asrori mengingatkan, semakin tua seseorang, terkadang semakin besar pula kebutuhan terhadap kesabaran, perhatian, dan kasih sayang dari anak-anaknya.

Karena itu, seorang anak tidak boleh mudah mengeluh ketika harus merawat orang tua.
Sebaliknya, kesempatan merawat bapak dan ibu hendaknya dipandang sebagai kesempatan untuk mendapatkan ridha Allah SWT.

“Jangan merasa terbebani ketika merawat orang tua. Bisa jadi justru di situlah Allah memberikan kesempatan kepada kita untuk mendapatkan keberkahan dan ridha-Nya,” pesannya.

Di bagian akhir ceramah, KH Asrori kembali mengingatkan pentingnya menjaga ucapan.
Menurutnya, tidak sedikit persoalan antara anak dan orang tua bermula dari kata-kata yang kurang tepat.

Karena itu, seorang anak hendaknya selalu memilih bahasa dan kalimat yang baik ketika berbicara kepada bapak maupun ibunya. Dalam konteks masyarakat Jawa, ia menyinggung pentingnya unggah-ungguh, yakni tata krama dalam berbahasa.

Berbicara kepada orang tua, menurutnya, tidak cukup hanya benar secara bahasa, tetapi juga harus disertai adab dan penghormatan.

“Kalau berdialog dan berkomunikasi, mari memilih kalimat yang paling baik, memilih tutur kata yang paling baik,” pesannya.

Doa untuk Kedua Orang Tua

Menutup tausiyahnya, KH Asrori mengajak jamaah membiasakan diri mendoakan kedua orang tua.
Salah satu doa yang dianjurkan adalah:
“Allahummaghfirli waliwalidayya warhamhuma kama rabbayani shaghira.”
Artinya, “Ya Allah, ampunilah dosaku dan dosa kedua orang tuaku, serta sayangilah keduanya sebagaimana mereka menyayangiku ketika aku masih kecil.”

Doa tersebut menjadi pengingat bahwa jasa kedua orang tua tidak akan pernah sebanding dengan apa yang mampu diberikan seorang anak kepada mereka. Sejak lahir, seorang anak dirawat, dibesarkan, disekolahkan, dididik, serta dipenuhi kebutuhannya hingga dewasa.

Ketika orang tua memasuki usia senja, sudah semestinya anak hadir memberikan perhatian, kasih sayang, dan pengabdian terbaik.

Pesan KH Asrori pada malam Maulid itu pun seakan mengajak jamaah tidak hanya mengenang kelahiran Nabi Muhammad SAW, tetapi juga membawa akhlak beliau pulang ke rumah: menjadi anak yang lebih santun, menjadi orang tua yang lebih sabar, serta menjadi bagian dari masyarakat yang mampu memuliakan sesama.

Peringatan Maulid Nabi di Musala Baiturrohim akhirnya bukan sekadar malam penuh shalawat dan tausiyah. Lebih dari itu, menjadi ruang untuk menumbuhkan kembali kecintaan kepada Rasulullah SAW, memperbaiki akhlak, mempererat silaturahmi, dan mengingat kembali besarnya jasa kedua orang tua. (gus)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *