Pelaksanaan Ibadah Haji Bukan Sekadar Ritual, KH Ilham Rohim Jelaskan Makna Spiritual hingga Filosofi Tasawuf

JOMBANG MEDIA NUSA-ANTARA.com – Pelaksanaan ibadah haji bukan sekadar perjalanan fisik menuju Tanah Suci, melainkan perjalanan spiritual yang sarat makna penghambaan kepada Allah SWT. Hal itu disampaikan Kepala Kantor Urusan Haji dan Umrah Kabupaten Jombang, KH Ilham Rohim, SAg, MHi saat diwawancarai media ini mengenai pelaksanaan ibadah haji tahun 2026, di Kantor Haji dan Umrah, Selasa (19/5/2026) pagi.

Ilham Rohim menjelaskan, seluruh rangkaian ibadah haji memiliki dasar hukum Islam sekaligus nilai-nilai tasawuf yang mendalam bagi kehidupan umat Muslim.

Menurutnya, puncak pelaksanaan ibadah haji tahun ini diperkirakan berlangsung pada 9 Dzulhijjah 1447 Hijriah atau 26 Mei 2026, yakni saat jamaah melaksanakan wukuf di Arafah.

“Wukuf itu adalah inti dari ibadah haji. Di situlah manusia benar-benar hadir di hadapan Allah, meninggalkan seluruh kepentingan duniawi dan hanya fokus kepada penghambaan,” ungkap Ilham dengan intonasi penuh maknah.

Pria lulusan S1 dan S2 dari IAIN Sunan Ampel Surabaya ini menyebut, tahapan pertama ibadah haji dimulai dari niat ihram. Dalam perspektif Syariat Islam, ihram merupakan rukun awal yang wajib dijalankan jamaah sebelum memasuki rangkaian ibadah haji.

Namun secara spiritual, ihram juga dimaknai sebagai simbol pelepasan atribut keduniawian.

“Ketika seseorang memakai pakaian ihram, maka sejatinya dia sedang menanggalkan simbol-simbol dunia, jabatan, status sosial, dan kemewahan. Semua manusia sama di hadapan Allah,” jelas Ilham yang aktif di jalur dakwah sebagai wakil ketua PCNU Jombang.

Dalam pandangan tasawuf, lanjut Ilham yang pernah nyantri di Ponpes Bahrul Ulum Tambak Beras dan Ponpes At Taufiq Sambong Dukuh Jombang, Ihram menjadi proses penyucian hati agar manusia memasuki perjalanan ruhani menuju ridha Allah SWT.

Setelah Ihram, jamaah bergerak menuju Arafah untuk menjalani wukuf. Ia menilai, Arafah merupakan simbol Padang Mahsyar, tempat seluruh manusia kelak dikumpulkan di hadapan Allah SWT.

“Wukuf adalah momentum muhasabah terbesar dalam hidup manusia. Semua berpakaian putih, semua berkumpul tanpa perbedaan. Itu gambaran bahwa manusia akan kembali kepada Allah,” terangnya.

Usai wukuf, jamaah melaksanakan mabit di Muzdalifah sebelum menuju Mina untuk lempar jumrah. Menurutnya lagi, lempar jumrah bukan sekadar melempar batu, tetapi simbol perlawanan manusia terhadap hawa nafsu dan godaan setan.

“Makna lempar jumrah itu adalah penegasan bahwa manusia harus melawan iblis dan tidak boleh tunduk kepada godaan syaitan,” katanya.

Ia juga menjelaskan mengenai Dam atau denda dalam ibadah haji. Dalam Hukum Islam, Dam terbagi menjadi dua, yakni Dam Nusuk dan Dam Isyarah. Dam nusuk dikenakan kepada jamaah yang melaksanakan haji tamattu’, yakni menjalankan umrah terlebih dahulu kemudian melaksanakan haji.

Sedangkan Dam Isyarah dikenakan akibat pelanggaran larangan ihram, seperti memakai wewangian, menutup kepala bagi laki-laki, atau mencukur rambut saat masih dalam keadaan ihram.

Selain menjelaskan aspek syariat dan spiritualitas haji, Ilham juga mengingatkan masyarakat agar mengikuti prosedur resmi dalam pendaftaran haji dan umrah.

Ia meminta masyarakat mendaftar melalui jalur resmi pemerintah, baik melalui Kantor Kementerian Haji dan Umrah maupun Bank Penerima Setoran Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji (BPS-BPIH).

“Masyarakat harus memahami regulasi yang ada dan jangan mudah tergiur tawaran keberangkatan nonprosedural,” tegasnya.

Pihaknya menegaskan, pemahaman yang benar mengenai ibadah haji tidak hanya berkaitan dengan tata cara pelaksanaan, tetapi juga pembentukan akhlak, kesabaran, keikhlasan, serta kedekatan spiritual manusia kepada Allah SWT.

“Haji itu perjalanan lahir dan batin. Bukan hanya perjalanan fisik menuju Makkah, tetapi perjalanan jiwa menuju ketakwaan,” pungkasnya.(gus)




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *