OPINI
Oleh : Abdul Malik, S.Ag, S.Pdi
Menjadi santri bukan sekadar pernah mondok, memakai sarung, atau menghafal kitab. Menjadi santri adalah perjalanan jiwa. Sebuah proses panjang untuk belajar menundukkan ego, menghormati guru, mencintai ilmu, dan mengabdi kepada umat.
Karena itu, ada kebanggaan tersendiri ketika seseorang dapat berkata: “Aku bangga menjadi santri Tebuireng.”
Pondok Pesantren Tebuireng, Cukir, Jombang bukan hanya nama sebuah pesantren. Ia adalah mata rantai sejarah perjuangan ulama, pusat lahirnya pemikiran keislaman moderat, dan tempat ditempanya adab sebelum ilmu.
Dari tanah inilah lahir tokoh-tokoh besar bangsa yang tidak hanya alim dalam agama, tetapi juga memiliki kepedulian terhadap peradaban, kebangsaan, dan kemanusiaan.
Di Tebuireng, santri diajarkan bahwa ilmu bukan alat untuk merasa paling benar, melainkan jalan untuk semakin rendah hati. Semakin tinggi ilmu seseorang, seharusnya semakin lembut lisannya, semakin luas cara pandangnya, dan semakin bijaksana sikapnya. Sebab keberkahan ilmu tidak hanya diukur dari kecerdasan berpikir, tetapi juga dari kejernihan hati.
Warisan terbesar Hadrotussyeh KH Hasyim Asy’ari bukan hanya kitab atau fatwa, tetapi karakter. Beliau menanamkan bahwa adab adalah fondasi utama ilmu. Santri tidak cukup hanya pintar membaca kitab, tetapi juga harus memiliki akhlak, keikhlasan, dan tanggung jawab moral terhadap masyarakat.
Karena itulah Tebuireng melahirkan banyak ulama, pemimpin, intelektual, dan pejuang bangsa.
Menjadi santri Tebuireng juga berarti belajar hidup sederhana di tengah zaman yang semakin materialistik. Di saat dunia sering mengukur manusia dari jabatan dan kekayaan, pesantren mengajarkan bahwa kemuliaan sejati terletak pada manfaat. Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain.
Hari ini, tantangan santri jauh lebih berat dibanding masa lalu. Generasi digital hidup di tengah banjir informasi, pertarungan ideologi, krisis moral, dan kegaduhan media sosial. Namun justru di sinilah nilai-nilai pesantren menjadi penting.
Santri Tebuireng harus mampu menjadi penjaga moral sekaligus penerang zaman; tidak anti terhadap modernitas, tetapi tetap kokoh memegang manhaj Ahlussunnah wal Jamaah.
Kebanggaan menjadi santri Tebuireng bukanlah kebanggaan yang melahirkan kesombongan, melainkan rasa syukur karena pernah ditempa oleh tradisi ilmu dan adab para ulama. Sebab tidak semua orang mendapat kesempatan merasakan suasana ngaji yang penuh keberkahan, mendengar nasihat kiai yang menyejukkan hati, serta hidup di lingkungan yang mengajarkan arti perjuangan dan keikhlasan.
Pada akhirnya, menjadi santri Tebuireng adalah amanah. Nama besar pesantren tidak boleh hanya menjadi cerita nostalgia, tetapi harus diwujudkan dalam sikap hidup sehari-hari: menjaga akhlak, merawat persatuan, mencintai ilmu, dan mengabdi kepada masyarakat.
Karena sejatinya, kebanggaan terbesar seorang santri bukan ketika dikenal manusia, tetapi ketika ilmunya membawa manfaat dan doanya menjadi penerang bagi sesama.(*)
Penulis Adalah : 1. Ketua Ikatan Keluarga Alumni Pesantren Tebuireng (Ikapete) Jombang.
2. Wakil Sekretaris PCNU Jombang.

















