Tambakberas: Ketika Langit Tidak Berdebat dengan Bumi

Oleh: H Ikhsan Effendi, SE, MSi

Barangkali kita terlalu sering mengira bahwa sejarah lahir dari rapat-rapat panjang, lobi-lobi yang melelahkan, atau kalkulasi-kalkulasi yang rapi. Padahal sejarah kadang tersenyum kepada manusia yang merasa sedang mengendalikannya.

Manusia menyusun agenda. Allah menyusun takdir.

Kita menghitung kemungkinan. Allah menghadirkan kenyataan.

Begitulah mungkin cara kita membaca keputusan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama yang akhirnya berlabuh di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang.

Banyak orang telah memiliki keyakinan masing-masing. Ada yang merasa daerahnya paling siap. Ada yang mempunyai argumentasi sejarah. Ada yang memiliki kekuatan organisasi. Semua ikhtiar itu baik. Semua adalah bagian dari musyawarah.

Tetapi sesudah semuanya selesai, keputusan justru seperti air yang selalu menemukan jalannya menuju laut.

Mengapa Tambakberas?
Barangkali pertanyaan itu tidak perlu segera dijawab.

Sebab tidak semua rahasia Allah diturunkan menjadi rumus.

Ada yang cukup dipahami oleh hati.

Dalam dunia pesantren, hati mempunyai cara membaca yang berbeda dengan pikiran. Pikiran mencari sebab. Hati mencari makna.
Pikiran bertanya, “Siapa yang memenangkan?”

Hati bertanya, “Apa yang sedang Allah ajarkan?”

Mungkin selama ini kita terlalu sibuk memandang NU sebagai organisasi. Padahal NU jauh lebih tua daripada struktur kepengurusannya. NU hidup dari sesuatu yang tidak tercatat dalam berita acara rapat.

Ia hidup dari doa seorang ibu yang melahirkan seorang kiai.
Ia hidup dari air mata santri yang mengaji selepas tahajud.
Ia hidup dari istikamah para guru yang tidak pernah meminta dikenang.

Dan yang lebih dalam lagi, NU hidup dari adab.
Adab itulah yang menjadikan sanad tidak pernah putus.
Orang-orang boleh wafat, tetapi adab tidak ikut dimakamkan.

Kitab boleh usang, tetapi hikmah tidak ikut lapuk.
Bangunan dapat direnovasi, tetapi keberkahan tidak pernah dibangun oleh semen dan beton.

Di sinilah kita sering keliru memahami sejarah.
Kita mengira yang bergerak hanyalah manusia.
Padahal Allah menggerakkan hati manusia.

Bukankah Al-Qur’an berkali-kali mengingatkan bahwa Allah membolak-balikkan hati siapa saja yang Dia kehendaki?

Maka boleh jadi tidak ada yang “mengalahkan” siapa pun.
Yang terjadi hanyalah Allah mempertemukan hati banyak orang pada satu titik yang telah lama Dia kehendaki.

Sebagian orang bertanya, apakah para masyayikh yang telah wafat ikut campur dalam perjalanan ini?

Pertanyaan seperti itu sesungguhnya terlalu kecil dibanding kebesaran Allah.

Para wali tidak pernah membutuhkan panggung untuk menunjukkan kewaliannya.

Orang-orang soleh tidak sibuk mengatur dunia setelah wafat.

Tetapi Allah tidak pernah mencabut cahaya amal yang mereka tanamkan.

Bukankah matahari yang telah tenggelam masih meninggalkan cahaya senja?
Bukankah sebuah pohon yang telah mati masih memberi rumah kepada burung-burung?

Begitu pula para ulama.
Yang hidup bukan jasadnya.
Yang hidup adalah doa-doanya.
Yang hidup adalah ilmu yang diwariskan.
Yang hidup adalah akhlak yang diam-diam tumbuh di dada murid dan santrinya.

Maka jangan membayangkan alam barzakh sebagai ruang intervensi.
Bayangkanlah ia sebagai samudra doa yang tidak pernah berhenti mengalir kepada mereka yang masih menjaga amanah.

Barangkali itulah yang oleh orang-orang tua disebut barokah.
Barokah bukan keajaiban yang menyalahi hukum Allah.

Barokah adalah ketika Allah menjadikan sesuatu yang tampak biasa memiliki pengaruh yang luar biasa.

Seperti setetes air yang mampu menghidupkan ladang.
Seperti satu kalimat guru yang mengubah seluruh arah kehidupan muridnya.
Seperti satu keputusan organisasi yang ternyata membawa pulang jutaan hati kepada sejarahnya sendiri.

Tambakberas mungkin hanyalah nama sebuah tempat.
Tetapi dalam batin warga Nahdliyin, ia adalah ruang ingatan.
Di sana ada jejak langkah .
Di sana pernah tumbuh gagasan yang kemudian menjelma menjadi gerakan.

Di sana ilmu dipelihara bukan untuk dipamerkan, tetapi untuk diamalkan.
Dan sejarah sering mempunyai kebiasaan yang unik.

Ia selalu kembali kepada mata airnya ketika sungai mulai kehilangan arah.
Mungkin inilah yang sedang terjadi.
Bukan Tambakberas yang dipilih.
Melainkan seluruh keluarga besar NU sedang diajak pulang.

Pulang kepada pesantren.
Pulang kepada sanad.
Pulang kepada musyawarah.
Pulang kepada tawaduk.
Karena sebesar apa pun organisasi, apabila kehilangan adab, ia hanya akan menjadi gedung yang megah tetapi kosong.

Sebaliknya, organisasi yang memelihara adab akan selalu menemukan jalan pulang, meskipun harus melewati jalan yang tidak pernah dipetakan oleh manusia.

Akhirnya kita sampai pada kesadaran yang sederhana.
Tidak semua kemenangan harus dirayakan.
Ada kemenangan yang justru harus disambut dengan sujud.

Sebab semakin besar amanah, semakin kecil alasan untuk menyombongkan diri.

Kalau hari ini Tambakberas menjadi tempat Muktamar, jangan biarkan ia menjadi alasan untuk merasa lebih mulia daripada pesantren yang lain.

Bukankah semua pesantren di lingkungan NU adalah mata air yang saling mengalirkan keberkahan?
Lirboyo, Tebuireng, Denanyar, Langitan, Sidogiri, Buntet, Ploso, dan ratusan pesantren lainnya bukanlah pesaing satu sama lain.

Mereka adalah gugusan bintang.
Tidak ada bintang yang iri kepada bulan.
Tidak ada bulan yang memusuhi matahari.

Semua memiliki tugas masing-masing untuk menerangi malam umat.
Dan mungkin, pada akhirnya, itulah pelajaran terbesar dari Tambakberas.

Bahwa sejarah tidak pernah memilih tempat yang paling keras bersuara.

Sejarah memilih tempat yang paling siap menjadi pelayan.

Karena di hadapan Allah, bukan siapa yang paling terkenal yang akan diabadikan.

Melainkan siapa yang paling ikhlas memikul amanah.

Maka biarlah Muktamar berjalan sebagai ikhtiar lahiriah.
Dan biarlah hati kita terus berdoa, semoga NU selalu dipimpin oleh orang-orang yang tidak hanya pandai mengatur organisasi, tetapi juga mampu menjaga cahaya yang dahulu dinyalakan para masyayikh.
Sebab cahaya itulah yang sesungguhnya sedang menerangi jalan pulang kita.(*)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *