JOMBANG MEDIA NUSA-ANTARA. Com – Membicarakan budaya dan kebudayaan membutuhkan sosok yang benar-benar memahami denyut sejarah serta ruh yang menghidupkannya. Tanpa itu, perbincangan hanya menjadi wacana kering tanpa makna. Karena itulah, obrolan mengenai khazanah budaya Jombang terasa jauh lebih hidup ketika dituturkan oleh salah satu budayawan asli Kota Santri, H. Nasrul Ilah
Pria yang akrab disapa Cak Nas ini meyakini bahwa Jombang menyimpan warisan sejarah yang jauh lebih kaya daripada yang selama ini tersingkap di permukaan publik. Menurutnya, setiap jengkal tanah di kabupaten ini merekam jejak historis sekaligus nilai budaya yang layak ditempatkan sebagai cagar budaya, sehingga harus dijaga, dirawat, dan dilestarikan secara berkelanjutan.
“Sejengkal tanah di Jombang sebenarnya masuk cagar budaya yang wajib dijaga, dirawat, dan dilindungi,” ungkap Cak Nas saat ditemui media ini di tempat tongkrongannya di kawasan pertokoan Jl KH Ahmad Dahlan, Alun-alun Jombang Kota, baru-baru ini.
Dengan gaya tutur yang hangat namun tegas, Cak Nas mengingatkan pentingnya kesadaran kolektif masyarakat, bukan hanya menikmati kekayaan budaya untuk kepentingan seremonial, tetapi turut memastikan keberlanjutannya bagi generasi kini dan generasi mendatang.
Ia menjelaskan, sebaran cagar budaya di Jombang sangat luas. Mulai dari kawasan wisata di Wonosalam yang menyimpan bangunan kuno peninggalan Kerajaan Majapahit, hingga situs-situs bersejarah di Tunggorono, Kabuh, Mojoagung, Sumobito dan tempat-tempat lainnya di wilayah Kabupaten Jombang.
Selain itu, Jombang juga melahirkan tokoh budayawan dan seniman besar seperti Cak Durasim, sang maestro ludruk dan tari ngremo yang dikenal berani menyampaikan kritik sosial di masa penjajahan.
Tak berhenti di situ, sejumlah tokoh nasional yang berpengaruh juga lahir dari tanah ini, yakni Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari, KH Wahab Hasbullah, KH Bisri Sansuri, Nur Cholis Majid, Emha Ainun Najib, Presiden ke-4 RI KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dan banyak lagi. Mereka berasal dari tradisi pesantren yang kaya nilai budaya, etika, sastra religi, dan akhlak mulia. “Istimewanya lagi,” ujar Cak Nas, tiga tokoh pahlawan nasional tersebut berasal dari Jombang.
Ketika disinggung mengenai pemberian gelar Pahlawan Nasional kepada Gus Dur oleh Presiden RI Prabowo Subianto, Cak Nas menyampaikan apresiasi tinggi.

“Tentu saya sangat senang Gus Dur resmi dianugerahi gelar pahlawan nasional. Gus Dur adalah sosok budayawan tulen yang mengayomi keberagaman budaya, agama, adat istiadat, pluralisme maupun toleransi di tengah masyarakat,” tuturnya yang kini menjabat sebagai Ketua Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Kabupaten Jombang.
Dalam perbincangan yang semakin mengalir, Cak Nas juga menyinggung kabar yang menyebut bahwa Bung Karno, Sang Proklamator dan Presiden pertama RI, lahir di Ploso, Jombang. Menurutnya, kabar tersebut bukan sekadar cerita, tetapi memiliki dasar jejak lokasi yang diyakini sebagai tempat kelahirannya.
“Saya yakin Bung Karno itu lahir di Ploso, Jombang. Dulu sebelum Jombang berdiri, wilayah ini masuk perluasan Surabaya. Seiring perjalanan waktu, Jombang menjadi pemerintahan sendiri seperti sekarang. Maka sangat layak bila dibangun tugu prasasti di Ploso sebagai penanda tempat kelahiran Bung Karno. Setahu saya, proses perencanaannya sedang berjalan.”ujarnya.
Sebagai adik kandung budayawan kondang Emha Ainun Najib (Cak Nun), pandangan Cak Nas memiliki bobot tersendiri dalam menilai sejarah budaya Jombang.
Terkait wacana menjadikan Jombang sebagai pusat ibukota Nahdlatul Ulama (JIK NU), mengingat sejarah Jombang sebagai akar lahirnya keberagaman budaya, pesantren, adat istiadat, kesenian, agama, dan kepercayaan yang hingga kini ekosistemnya tetap terawat dan terjaga dengan baik, Cak Nas memberikan tanggapan yang bijak.
“Gak masalah kalau Jombang dijadikan pusat ibukotanya NU untuk identitas. Namun, tetap perlu kajian ilmiah yang mendalam, melibatkan para ahli dan tokoh sejarah yang masih hidup agar memberikan pandangan yang komprehensif,” tandasnya.
Sementara itu, Sekkab Jombang H Agus Purnomo menyebutkan, Jombang sebelum menjadi pemerintahan sendiri memiliki sejarah yang panjang, dengan ditandai banyak situs cagar budaya. Salah satunya bangunan kuno Tugu Ringin Contong, jalan bundaran yang strategis di pusat kota itu menjadi ikon kota, sehingga warga luar kota Jombang ketika masuk wilayah Jombang mudah sekali mengenalnya, karena faktor sejarah Jombang dulu.
“Penggunakan logo Ringin Contong di Hari Jadi Kota Jombang tahun 2025 ini sebagai simbolis sejarah Jombang,” tutur Agus Purnomo di ruang kerjanya, belum lama ini.
Ketua Komunitas JIK NAH Ust Muhtazuddin mengatakan, dukungan wacana JIK NU hingga kini terus mengalir dari berbagai pihak.
“Alhamdulillah dukungan terus mengalir. Kami bersama tim tengah mempersiapkan konsep perencanaan yang matang, termasuk melakukan kajian ilmiah dan mengundang para ahli sejarah duduk bersama membahas JIK NU,” jelasnya. (gus)

















