Hari Keluarga Nasional 2026: Saatnya Mengembalikan Keluarga sebagai Gerbang Emas untuk Indonesia Emas

Opini:

Oleh: Nanang Mubarok
Ketua Umum DPP BKPRMI

Setiap tanggal 29 Juni, bangsa Indonesia memperingati Hari Keluarga Nasional (Harganas). Peringatan ini bukan sekadar agenda seremonial tahunan, melainkan momentum strategis untuk merefleksikan kembali posisi keluarga sebagai fondasi utama pembangunan bangsa. Di tengah derasnya arus globalisasi, disrupsi digital, perubahan sosial, krisis lingkungan, hingga tantangan terhadap nilai-nilai moral seperti LGBT, narkoba dan miras, keluarga menjadi benteng pertama sekaligus terakhir dalam menjaga jati diri bangsa.

Tidak berlebihan jika dikatakan bahwa kualitas suatu bangsa sangat ditentukan oleh kualitas keluarga-keluarga yang membangunnya. Indonesia Emas 2045 tidak akan lahir hanya melalui pembangunan infrastruktur, kemajuan teknologi, atau pertumbuhan ekonomi. Indonesia Emas hanya akan terwujud apabila dimulai dari rumah-rumah yang melahirkan generasi beriman, berakhlak mulia, sehat, cerdas, tangguh, dan memiliki kepedulian sosial.

Allah SWT mengingatkan dalam Al-Qur’an:

“Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka…” (QS. At-Tahrim: 6).

Ayat tersebut menegaskan bahwa membangun keluarga bukan hanya tanggung jawab sosial, tetapi juga amanah keagamaan. Orang tua bukan sekadar pencari nafkah, melainkan pendidik pertama, teladan utama, dan pemimpin bagi keluarganya.

Rasulullah SAW juga bersabda:

“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Hadis ini memperlihatkan bahwa keluarga merupakan institusi kepemimpinan paling mendasar. Dari keluargalah lahir karakter, integritas, kepedulian, serta semangat pengabdian kepada bangsa.

Keluarga Adalah Sekolah Peradaban

Sejarah membuktikan bahwa peradaban besar selalu lahir dari keluarga-keluarga yang kuat. Anak-anak tidak dilahirkan membawa karakter tertentu, melainkan dibentuk melalui keteladanan, kasih sayang, kedisiplinan, dan nilai-nilai yang hidup di dalam keluarga.

Sayangnya, saat ini keluarga menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Kemajuan teknologi memang memberikan banyak kemudahan, tetapi juga menghadirkan ancaman berupa kecanduan gawai, penyebaran konten negatif, menurunnya kualitas komunikasi antaranggota keluarga, meningkatnya individualisme, hingga krisis identitas di kalangan generasi muda.

Fenomena perundungan, penyalahgunaan narkoba, kekerasan terhadap anak, pergaulan bebas, pornografi, judi daring, hingga berbagai bentuk penyimpangan perilaku tidak dapat dilepaskan dari melemahnya fungsi pendidikan dalam keluarga.

Karena itu, Hari Keluarga Nasional harus menjadi titik balik untuk mengembalikan rumah sebagai tempat terbaik membangun karakter.

Masjid dan Keluarga: Dua Pilar Peradaban

Dalam perspektif Islam, keluarga tidak dapat dipisahkan dari masjid. Keduanya merupakan dua institusi yang saling menguatkan dalam membangun masyarakat yang beriman dan berakhlak.

Masjid bukan hanya tempat ibadah, tetapi juga pusat pendidikan, pembinaan karakter, pemberdayaan ekonomi, pelayanan sosial, hingga pembentukan kepemimpinan umat.

Sementara keluarga merupakan tempat pertama anak mengenal Allah, belajar kejujuran, kedisiplinan, kasih sayang, dan tanggung jawab.

Ketika keluarga dan masjid berjalan beriringan, akan lahir generasi yang memiliki keseimbangan antara kecerdasan intelektual, spiritual, emosional, dan sosial.

Inilah filosofi yang sejak awal diperjuangkan oleh Badan Komunikasi Pemuda Remaja Masjid Indonesia (BKPRMI), yakni membangun masyarakat marhamah melalui pembinaan generasi muda berbasis masjid.

Pemuda Masjid Menjadi Penggerak Ketahanan Keluarga

Momentum Harganas juga harus menjadi panggilan bagi pemuda. Pemuda hari ini adalah calon ayah dan ibu di masa depan. Kualitas keluarga Indonesia beberapa dekade mendatang sedang dipersiapkan melalui kualitas pemuda hari ini.

Karena itu, pembinaan pemuda tidak cukup hanya berorientasi pada keterampilan kerja. Lebih dari itu, pemuda perlu dipersiapkan menjadi pemimpin keluarga yang berintegritas, bertanggung jawab, memiliki ketahanan moral, kecakapan digital, kemampuan ekonomi, serta kecintaan terhadap agama dan bangsa.

BKPRMI terus berkomitmen melahirkan kader-kader muda yang tidak hanya aktif memakmurkan masjid, tetapi juga siap membangun keluarga yang sakinah, mawaddah, wa rahmah sebagai fondasi lahirnya generasi emas Indonesia.

Saatnya Mengembalikan Keluarga sebagai Pusat Peradaban Bangsa

Keluarga tidak boleh dipandang hanya sebagai urusan privat. Keluarga adalah institusi strategis pembangunan nasional.

Ketahanan ekonomi, ketahanan pangan, ketahanan sosial, bahkan ketahanan ideologi bangsa semuanya berawal dari keluarga.

Oleh sebab itu, pembangunan keluarga harus menjadi gerakan bersama yang melibatkan pemerintah, lembaga pendidikan, organisasi kemasyarakatan, tokoh agama, dunia usaha, media massa, serta seluruh elemen masyarakat.

Kita membutuhkan gerakan nasional yang menghidupkan kembali budaya makan bersama keluarga, membiasakan salat berjamaah, memperkuat literasi Al-Qur’an, membangun komunikasi yang hangat, meningkatkan literasi digital keluarga, membiasakan musyawarah, memperkuat kepedulian sosial, serta menjadikan rumah sebagai tempat yang penuh cinta, ilmu, dan keteladanan.

Komitmen BKPRMI

Sebagai organisasi kepemudaan berbasis masjid yang telah mengabdi lebih dari empat dekade, BKPRMI berkomitmen untuk terus menjadi mitra strategis pemerintah dalam memperkuat ketahanan keluarga Indonesia melalui penguatan fungsi masjid.

Melalui pembinaan pemuda dan remaja masjid, pendidikan karakter, dakwah digital, penguatan ekonomi umat melalui Gerakan Bangun Ekonomi Masjid (GERBANG EMAS), pemberdayaan keluarga muda, pendidikan Al-Qur’an, serta pengembangan ekosistem masjid yang produktif, BKPRMI ingin memastikan bahwa masjid benar-benar hadir sebagai pusat pembinaan keluarga dan peradaban.

Karena sesungguhnya, membangun Indonesia tidak dimulai dari gedung-gedung megah, tetapi dari rumah-rumah yang dipenuhi iman, ilmu, akhlak, dan kasih sayang.

Mari jadikan Hari Keluarga Nasional 2026 sebagai momentum untuk mengembalikan keluarga pada perannya yang hakiki: pusat pembentukan karakter, pusat pendidikan, pusat kasih sayang, dan pusat peradaban bangsa.

Apabila setiap keluarga menjadi kuat, maka masyarakat akan kokoh. Ketika masyarakat kokoh, bangsa akan bermartabat. Dan ketika bangsa bermartabat, Indonesia akan mampu berdiri sejajar sebagai kekuatan global yang berlandaskan nilai-nilai luhur Pancasila dan ajaran Islam yang rahmatan lil ‘alamin.

Selamat Hari Keluarga Nasional 2026. Dari keluarga yang kuat, lahirlah peradaban yang hebat.




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *