JOMBANG | MEDIA NUSA-ANTARA.COM –
Fajar baru saja menyingsing di ufuk timur Pulau Madura, Sabtu (3/1/2026). Udara dingin menyelimuti pelataran Pondok Pesantren Syaichona Cholil, Bangkalan. Namun, hawa spiritual terasa begitu hangat, memancar dari wajah-wajah para dzuriyah (keturunan) muassis Nahdlatul Ulama.
Tepat pukul 06.30 WIB, Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf secara resmi melepas rombongan napak tilas Satu Abad Muassis NU. Prosesi pelepasan itu berlangsung khidmat, sarat doa dan harapan agar perjalanan ruhani ini menjadi penyambung sanad perjuangan para ulama.
Di barisan terdepan, KHR Ahmad Azaim Ibrahimy melangkah mantap. Di tangan Ahmad Azaim tergenggam sebuah tongkat kayu sarat sejarah, sementara di lehernya melingkar tasbih yang menjadi simbol kepasrahan dan kekuatan batin. Sepanjang perjalanan melintasi ruas-ruas jalan Jawa Timur, rombongan tidak disibukkan percakapan duniawi. Yang terdengar hanyalah dzikir yang bergetar, menggema dari bibir ke bibir:
“Ya Jabbar… Ya Qahhar… Ya Jabbar… Ya Qahhar…”
Dzikir itu bukan sekadar untaian lafaz. Ia adalah perisai ruhani, peneguh langkah, sekaligus penanda bahwa di balik kelembutan wajah Nahdlatul Ulama, terdapat keteguhan ilahiah yang menjaga kewibawaan para
ulama.
Pertemuan Ruhani di Tanah Jombang Pukul 19.00 WIB, Stasiun Kereta Api Jombang menjadi saksi peristiwa yang sarat makna. Rombongan dari Bangkalan dan Situbondo tiba dan disambut para dzuriyah muda Jombang. Pertemuan itu laksana kembalinya anak-anak sungai ke muara samudera hikmah yang sama.
Usai bersilaturahmi dengan para masyayikh dan jajaran Forkopimda di Pendopo Kabupaten Jombang, prosesi napak tilas resmi dimulai.
Tepat pukul 20.15 WIB, doa dipimpin KH Masduki Abdurrahman Al Hafidz, dilanjutkan sambutan Bupati Jombang H. Warsubi yang sekaligus melepas rombongan. Genderang napak tilas pun ditabuh.
Ribuan penderek mengikuti di belakang, langkah demi langkah membelah malam Jombang menuju arah selatan, menuju pusat sejarah dan ruh Nahdlatul Ulama.
Getar sanad di depan Ndalem Kasepuhan Tebuireng malam, Minggu (4/1/2026) semakin larut, namun energi spiritual justru kian memuncak. Rombongan KHR Ahmad Azaim Ibrahimy perlahan memasuki gerbang utama Pondok Pesantren Tebuireng. Langkah mereka terasa berat—bukan karena lelah, melainkan karena keagungan ruhani yang menyelimuti tempat singgah Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari.
Di depan Ndalem Kasepuhan, cahaya lampu temaram seolah merunduk pada cahaya sanad yang sedang disambungkan. Suasana hening, penuh takzim.
Di hadapan KH Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin), Kiai Azaim berdiri dengan penuh hormat. Dengan gerakan perlahan dan penuh adab, beliau menundukkan kepala, mempersilakan tasbih yang melingkar di lehernya diambil sebagai simbol penyerahan amanah. Air mata tampak menggenang di sudut mata para masyayikh yang menyaksikan momen sakral itu.
Dengan suara bergetar, Kiai Azaim melantunkan dzikir: “Ya Jabbar… Ya Qahhar…”
KH Abdul Hakim Mahfudz menerima tasbih tersebut dengan tangan gemetar. Haru membuncah di dada. Dengan suara parau namun tegas menembus relung batin, beliau berucap:
“Ya Jabbar, Ya Qahhar… Siapa yang berani pada NU akan hancur. Siapa yang berani pada ulama akan hancur.”
Kalimat itu merobek keheningan malam. Sebuah peringatan ruhani bahwa Nahdlatul Ulama tidak sekadar dijaga oleh struktur organisasi, melainkan oleh doa-doa langit dan keberkahan para wali.
Tongkat dan tasbih itu bukan benda biasa, melainkan Isyaroh—tanda tersambungnya kembali mandat perjuangan dari Syaichona Cholil kepada Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari, seratus tahun silam.
Doa di Maqbaroh, Genap Satu Abad Sanad Perjuangan
Langkah rombongan kemudian berlanjut menuju maqbaroh. Di hadapan pusara Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari, doa-doa dilangitkan dengan penuh khusyuk. Di tempat inilah, sanad perjuangan tidak hanya dikenang sebagai catatan sejarah, tetapi dirasakan sebagai denyut nadi yang menghidupkan persatuan dan keutuhan bangsa.
Alhamdulillah, satu lingkaran sejarah telah genap.
Satu abad telah berlalu, namun tali ruhani para ulama tetap kokoh, tak lekang oleh zaman.
Semoga prosesi napak tilas ini menjadi uswah hasanah bagi setiap muharrik (penggerak) Nahdlatul Ulama untuk terus menjaga martabat ulama, merawat persatuan, dan mengawal keutuhan Nusantara.
Pantauan media ini yang mengikuti napak tilas mulai dari Pendopo Alun-Alun hingga menuju finish Ponpes Tebu Ireng, Cokir, Jombang, para peserta yang datang dari sejumlah daerah di tanah air tampak penuh semangat dibawah guyuran hujan gerimis yang penuh rahmat, tak menyurutkan langkah pastinya hingga di garis finish.
“Alhamdulillah, bersyukur akhirnya sampai di kediaman muasis NU dan dzurriyat Mbah Hasyim As’ary di Tebu Ireng,” tutur peserta yang ikut rombongan dari Bangkalan.
(gus/*)

















