Menelusuri Hakikat Haji Bersama Ustadz Moh Sami’an : Dari Syariat Menuju Jalan Spiritual Menuhankan Allah dan Keutamaan Puasa 10 Hari Dzulhijjah

JOMBANG, MEDIA NUSA-ANTARA.com – Di tengah suasana sederhana di kawasan Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jatim, perbincangan hangat penuh nuansa spiritual mengalir bersama seorang tokoh agama yang dikenal luas memiliki kedalaman ilmu syariat dan tasawuf, Mohammad Sami’an, SPdi, MPdi.

Dalam silaturahim bersama Media Nusa-Antara.com , Ustadz Sami’an mengulas makna ibadah haji tidak hanya dari aspek hukum fiqih semata, tetapi juga dari sisi hakikat dan perjalanan ruhani manusia menuju Allah SWT.

Menurutnya, haji bukan sekadar perjalanan fisik menuju Tanah Suci Makkah, melainkan perjalanan batin untuk membersihkan diri dan meneguhkan cinta kepada Sang Khalik.

“Haji itu rukun Islam yang kelima. Tetapi, tidak semua orang dipanggil menjadi tamu Allah. Orang yang berhaji itu pilihan Allah. Mereka dimuliakan sebagai tamu-tamu-Nya,” tutur Sami’an Alumni Kampus Unwaha, Tambak Beras, Jombang, Jatim, saat ditemui media ini di kediaman pribadinya, Desa Tambak Rejo Gang 5, Sabtu (23/5/2026) pagi.

Dengan nada teduh dan tawadhu, Sami’an yang memilik jam terbang tinggi dalam dakwahnya itu, ia menjelaskan, seluruh rangkaian ibadah haji sesungguhnya adalah jejak spiritual para nabi yang diwariskan kepada umat manusia.

Wukuf di Arafah:

Padang kesetaraan dan pengampunan,
Ustadz Sami’an menuturkan, wukuf di Arafah menyimpan makna kemanusiaan yang sangat dalam. Dalam tradisi para nabi, tempat itu diyakini menjadi titik pertemuan kembali Nabi Adam AS dan Siti Hawa setelah puluhan tahun dipisahkan oleh Allah SWT.

“Di Arafah itu tidak ada beda antara orang kaya dan miskin, pejabat maupun rakyat biasa. Semua memakai pakaian yang sama, berdiri sama di hadapan Allah, meminta ampun atas dosa-dosanya,” ungkapnya.

Menurutnya lagi, Arafah adalah simbol kefanaan manusia. Semua kedudukan dunia luruh di hadapan kebesaran Allah SWT.

Bahkan ia menegaskan, seseorang yang telah sampai di Padang Arafah tidak boleh lagi berputus asa dari ampunan Allah.

“Ketika di Arafah, haram hukumnya merasa dirinya tidak diampuni Allah. Harus yakin bahwa dosa-dosanya telah diampuni,” katanya.

Lempar Jumrah:

Simbol melawan godaan dunia,
makna mendalam juga tersimpan dalam ritual lempar jumrah. Ustadz Sami’an menjelaskan, prosesi itu meneladani perjuangan Nabi Ibrahim AS saat mendapat godaan iblis ketika hendak menjalankan perintah Allah untuk menyembelih putranya, Nabi Ismail AS.
“Iblis menggoda Nabi Ibrahim agar membatalkan perintah Allah. Tetapi Nabi Ibrahim menunjukkan bahwa cintanya hanya kepada Allah. Apa pun yang diperintahkan Allah, akan dijalankan,” jelasnya.

Karena itu, lanjut guru pengajar MI Bahrul Ulum, Tambak Beras Jombang ini, melempar jumrah sejatinya bukan sekadar melempar batu, melainkan simbol perlawanan manusia terhadap hawa nafsu, kesombongan, ketamakan, dan bisikan setan dalam kehidupan sehari-hari.

“Allahu Akbar yang diucapkan berkali kali saat jumrah itu adalah penegasan bahwa Allah lebih besar daripada segala godaan dunia,” tambahnya.

Tawaf dan Sa’i:

Filosofi Kehidupan manusia
dalam pandangan tasawuf, tawaf mengandung pesan tentang dinamika kehidupan manusia yang harus terus bergerak dan berikhtiar.

“Kita tawaf itu bukan menyembah Ka’bah. Ka’bah hanya arah kiblat. Tawaf mengajarkan bahwa hidup harus terus bergerak, terus berusaha, berputar dalam ikhtiar kepada Allah,” tutur Sami’an dengan mimik bergetar.

Sementara ritual sa’i antara Bukit Shafa dan Marwah menjadi simbol perjuangan seorang ibu, yakni Siti Hajar, dalam mencari kehidupan bagi putranya, Nabi Ismail AS.

“Itulah gambaran perjuangan manusia. Hidup itu harus sabar, harus ikhtiar, harus kuat menghadapi kesulitan,” katanya.

Menurutnya, sa’i justru menjadi salah satu rangkaian ibadah paling berat karena mengandung pesan pengorbanan, kesabaran, dan keteguhan hati.

Tanda-Tanda Haji Mabrur

Dalam wawancara tersebut, Ustadz Sami’an juga mengupas tentang ciri-ciri haji mabrur.
Lebih jauh dia menegaskan, haji mabrur tidak diukur dari pakaian, gelar, ataupun status sosial sepulang dari Tanah Suci, melainkan dari perubahan akhlak dan perilaku seseorang.

“Tanda pertama haji mabrur adalah semakin rukun dengan istri, anak, tetangga dan masyarakat,” ujarnya.

Ia mengatakan, ibadah haji adalah madrasah kesabaran. Cuaca panas, kepadatan manusia, dan ujian emosi selama di Tanah Suci menjadi latihan pengendalian diri bagi jamaah.

Karena itu, orang yang hajinya diterima Allah akan tampak lebih lembut dalam berbicara dan semakin baik adabnya.

“Ngomongnya tambah baik, tidak kasar, tidak menyakiti orang lain. Itu tanda hajinya membawa keberkahan,” jelasnya.

Selain itu, tanda lain haji mabrur adalah semakin ringan tangan membantu sesama.

“Kalau punya harta, senang bersedekah. Kalau punya tenaga, ringan membantu. Kalau punya ilmu, memberi solusi. Itu makna luas dari sifat dermawan setelah berhaji,” katanya.

Haji sebagai jalan penyucian ruhani, di akhir perbincangan, Ustadz Sami’an menjelaskan, inti haji sejatinya adalah perjalanan menyucikan hati agar manusia kembali mengenal Allah dengan sebenar-benarnya.

“Haji bukan hanya perjalanan badan, tetapi perjalanan ruh menuju Allah. Orang yang pulang haji harus semakin dekat kepada Allah dan semakin bermanfaat bagi manusia,” jelas Sami’an pembimbing Majelis Ilmu One Day One Juz Kabupaten Jombang ini.

Perbincangan itu pun menjadi refleksi mendalam bahwa ibadah haji bukan semata ritual fisik, melainkan jalan panjang pembentukan jiwa, pengorbanan, cinta, kesabaran, dan ketundukan total kepada Allah SWT.

Dalam wawancara dengan penasehat PKB Kabupaten Jombang ini, Sami’an juga mengingatkan kepada seluruh umat Muslim soal pentingnya keutamaan puasa sunnah pada 10 hari pertama bulan Dzulhijjah (termasuk Puasa Tarwiyah dan Arafah) bernilai sangat luar biasa.

“Amalan ini dilipatgandakan pahalanya melebihi jihad di jalan Allah, menghapus dosa setahun yang lalu dan yang akan datang, serta menjauhkan pelakunya dari api neraka,” jelasnya.

Berikut adalah rincian keutamaan dan pahala puasa sunnah Dzulhijjah:

Puasa 1-7 Dzulhijjah: Setiap harinya dihitung sebagai amalan saleh yang sangat dicintai oleh Allah SWT, di mana amalan pada 10 hari pertama Dzulhijjah ini lebih utama dibandingkan hari-hari lainnya dalam setahun.

Puasa Tarwiyah (8 Dzulhijjah):

Berpuasa pada hari ini diyakini dapat menghapus dosa-dosa kecil yang diperbuat pada tahun sebelumnya.

Puasa Arafah (9 Dzulhijjah):

Merupakan puasa sunnah yang paling utama. Rasulullah SAW bersabda bahwa puasa ini dapat menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang bagi yang mengerjakannya.(agus pamuji)




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *