JOMBANG MEDIA NUSA-ANTARA. com- Pemerintah Kabupaten Jombang berencana mengkaji penggabungan (merger) sejumlah sekolah dasar (SD) yang mengalami kekurangan peserta didik. Langkah tersebut muncul setelah ditemukan beberapa sekolah dengan jumlah murid baru yang sangat minim pada tahun ajaran 2026, di antaranya SDN Mojongapit yang hanya menerima 1 murid baru saat proses SPMB Tahun Ajaran Baru 2026 dan SDN Jombatan.
Bupati Jombang H Warsubi, SH, MSi membenarkan, terdapat SD yang hanya memperoleh satu siswa baru pada penerimaan peserta didik tahun ini. Menurut Bupati Warsubi, kondisi tersebut dinilai perlu mendapat perhatian agar proses pembelajaran tetap berjalan efektif.
“Kalau memang jumlah muridnya sangat sedikit, nanti akan kita kaji kemungkinan untuk dilakukan merger. Tujuannya agar pembelajaran lebih efektif dan layanan pendidikan tetap berjalan dengan baik,” ujar Warsubi diwawancarai doorstop oleh awak media usai menghadiri rapat paripurna DPRD, Kamis (16/7/2026).
Lebih lanjut Bupati Warsubi mengatakan, kebijakan penggabungan sekolah tidak bisa dilakukan secara langsung karena harus memperhatikan ketentuan dan regulasi yang berlaku. Pemerintah daerah akan terlebih dahulu melakukan kajian melalui Sekretaris Daerah sebelum mengambil keputusan.
“Kita tetap berdasarkan regulasi. Nanti akan kita lihat aturannya dan dikonsultasikan lebih lanjut,” jelasnya.
Mantan lurah Mojokrapak ini menambahkan, penggabungan sekolah yang mengalami kekurangan murid juga dapat mendukung optimalisasi tenaga pendidik serta pemanfaatan sarana dan prasarana pendidikan.
“Kalau sekolah kekurangan murid, seharusnya bisa dijadikan satu agar pembelajaran lebih efektif. Gurunya juga bisa ditata sehingga kualitas layanan pendidikan dapat ditingkatkan,” tuturnya.
Terkait kapan kebijakan tersebut akan diterapkan, Bupati menyebut pemerintah daerah masih menunggu hasil kajian yang akan dilakukan dalam waktu mendatang.
“Nanti akan dikaji terlebih dahulu. Pak Sekda akan menyiapkan kajiannya,” pungkasnya.(gus)

















