Oleh: Nanang Mubarok, Ketua Umum DPP BKPRMI
Hari Raya Idul Adha bukan sekadar ritual tahunan umat Islam yang identik dengan penyembelihan hewan kurban. Lebih dari itu, Idul Adha adalah momentum spiritual, sosial, dan peradaban yang sarat dengan pelajaran penting dalam membangun karakter manusia unggul. Di tengah tantangan zaman yang semakin kompleks, bangsa Indonesia membutuhkan sumber daya manusia yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga kuat secara moral, spiritual, sosial, dan kebangsaan.
Tema “Spirit Idul Adha dalam Membentuk Karakter SDM Emas Indonesia” menjadi sangat relevan diangkat saat ini karena Indonesia sedang menuju cita-cita besar Indonesia Emas 2045. Bonus demografi yang dimiliki bangsa ini akan menjadi kekuatan besar apabila generasi mudanya memiliki karakter tangguh, berintegritas, disiplin, peduli sosial, dan dekat dengan nilai-nilai ketuhanan. Sebaliknya, bonus demografi bisa menjadi ancaman apabila generasi muda terjebak dalam krisis moral, individualisme, hedonisme, intoleransi, serta kehilangan arah kehidupan spiritual.
Idul Adha mengajarkan bahwa kemajuan sebuah bangsa tidak cukup dibangun dengan kecanggihan teknologi dan pertumbuhan ekonomi semata, tetapi juga harus ditopang oleh kekuatan iman, pengorbanan, kepedulian sosial, dan keteladanan akhlak. Kisah Nabi Ibrahim AS, Siti Hajar, dan Nabi Ismail AS merupakan teladan agung tentang ketaatan, keikhlasan, pengorbanan, kesabaran, serta komitmen terhadap nilai-nilai ilahiyah. Nilai-nilai inilah yang harus menjadi fondasi pembangunan SDM Indonesia ke depan.

Spirit pertama dari Idul Adha adalah spirit pengorbanan. Tidak ada keberhasilan besar tanpa kesediaan untuk berkorban. Generasi muda Indonesia harus dididik untuk memiliki mental pejuang, bukan mental instan. SDM unggul lahir dari kerja keras, disiplin, pengabdian, dan kesiapan menempatkan kepentingan bangsa di atas kepentingan pribadi. Dalam konteks kebangsaan, semangat berkurban juga berarti kesiapan memberikan kontribusi terbaik bagi umat, bangsa, dan negara.
Spirit kedua adalah spirit keteladanan dan ketaatan kepada nilai kebaikan. Nabi Ibrahim AS memberikan contoh bahwa kepemimpinan sejati dibangun dari integritas dan ketaatan kepada prinsip-prinsip kebenaran. Indonesia hari ini sangat membutuhkan generasi muda yang memiliki integritas, jujur, anti korupsi, dan memiliki tanggung jawab sosial yang tinggi. Pendidikan karakter tidak cukup diajarkan di ruang kelas, tetapi harus dihidupkan dalam lingkungan keluarga, masjid, sekolah, dan masyarakat.
Spirit ketiga adalah spirit solidaritas sosial dan kepedulian terhadap sesama. Ibadah kurban mengajarkan pentingnya berbagi dan memperkuat ukhuwah sosial. Ketika daging kurban dibagikan kepada masyarakat, sesungguhnya Islam sedang membangun peradaban yang berkeadilan dan berkeadaban. Di tengah meningkatnya kesenjangan sosial dan tantangan ekonomi masyarakat, nilai gotong royong dan kepedulian sosial harus terus diperkuat sebagai karakter utama SDM Indonesia.
Spirit keempat adalah penguatan masjid sebagai pusat pembinaan generasi muda dan pembangunan peradaban. Masjid tidak boleh hanya menjadi tempat ibadah ritual, tetapi juga menjadi pusat pendidikan karakter, pemberdayaan ekonomi umat, pengembangan literasi, dakwah, serta pembinaan kepemudaan. Dari masjid lahir generasi yang kuat iman, luas ilmu, sehat sosial, dan cinta tanah air.
Selama ini Badan Komunikasi Pemuda Remaja Masjid Indonesia (BKPRMI) terus berkomitmen mewujudkan masyarakat marhamah dalam bingkai keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia melalui gerakan dakwah, sosial, pendidikan, dan pemberdayaan pemuda remaja masjid di seluruh Indonesia. BKPRMI meyakini bahwa masjid adalah benteng moral bangsa dan pemuda remaja masjid adalah aset strategis masa depan Indonesia.
Melalui berbagai program pembinaan: Taman Asuh Anak Muslim (TAAM(, Taman Kanak-Kanak Al-Qur’an (TKA), Taman Pendidikan Al-Qur’an TPA) dan Ta’limul Qur’an Lil Aulad (TQA), kaderisasi dakwah, penguatan ekonomi umat, pemberdayaan sosial, pengembangan literasi digital, hingga Gerakan Bangun Ekonomi Masjid (GERBANG EMAS), BKPRMI berupaya menghadirkan ekosistem pembinaan generasi muda yang religius, produktif, inovatif, dan berdaya saing. Komitmen ini menjadi bagian dari kontribusi nyata BKPRMI dalam menyongsong Indonesia Emas 2045.
Pemuda remaja masjid hari ini harus tampil sebagai pelopor perubahan sosial yang positif. Mereka tidak boleh hanya menjadi penonton di tengah derasnya arus globalisasi dan budaya hedonisme. Pemuda masjid harus menjadi generasi yang cerdas digital, kuat spiritual, peduli sosial, serta mampu menjadi agen persatuan dan perekat bangsa.
Karena itu, momentum Idul Adha harus dijadikan sebagai titik kebangkitan moral dan spiritual bangsa. Pemerintah perlu memberikan perhatian lebih besar terhadap penguatan pendidikan karakter berbasis nilai agama dan pengembangan kepemudaan berbasis masjid. Dukungan terhadap guru ngaji, lembaga pendidikan Al-Qur’an, dan organisasi kepemudaan Islam harus menjadi bagian penting dari investasi pembangunan SDM nasional.
Kepada masyarakat, mari jadikan Idul Adha bukan hanya seremoni tahunan, tetapi momentum memperkuat kepedulian sosial, solidaritas, dan semangat berbagi. Bangun keluarga yang religius, harmonis, dan peduli terhadap pembinaan generasi muda.
Dan kepada seluruh pemuda remaja masjid di Indonesia, mari bangkit menjadi generasi pelopor peradaban. Jadilah pemuda yang aktif memakmurkan masjid, menguatkan ukhuwah, menjaga moralitas bangsa, serta berkontribusi nyata bagi kemajuan Indonesia.
Idul Adha mengajarkan bahwa bangsa besar lahir dari manusia-manusia yang rela berkorban, kuat iman, luas kepedulian sosial, dan kokoh akhlaknya. Jika spirit ini terus dihidupkan, maka insya Allah Indonesia Emas 2045 bukan sekadar cita-cita, tetapi akan menjadi kenyataan.
Mari makmurkan masjid, kuatkan dakwah, bangun generasi emas Indonesia!
Pemuda Remaja Masjid Bersatu, Berdaya, Mendunia untuk Indonesia Maju dan Bermartabat.

















