EDITORIAL
AGUS PAMUJI
Allah SWT berfirman, “Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56). Ayat ini menjadi penegas bahwa manusia dan jin sama-sama merupakan makhluk ciptaan Allah yang memiliki kewajiban untuk tunduk dan menyembah-Nya. Di antara keduanya ada yang beriman, ada pula yang ingkar. Karena itulah, Islam mengajarkan umatnya untuk mengimani adanya alam gaib, termasuk keberadaan jin.
Dalam kehidupan sehari-hari, keberadaan jin sering kali hanya dipahami sebatas kisah-kisah mistis. Padahal, Al-Qur’an dan hadis mengajarkan bahwa setan dari golongan jin senantiasa berusaha menggoda manusia melalui berbagai cara. Salah satu jalan yang paling halus adalah membisikkan waswas ke dalam hati, menumbuhkan rasa takut yang berlebihan, kecemasan, keraguan, keputusasaan, hingga mendorong manusia mengikuti hawa nafsunya.
Tentu tidak setiap penyakit fisik maupun gangguan psikis dapat dikaitkan dengan gangguan jin. Islam juga mengajarkan bahwa sakit bisa disebabkan oleh faktor alamiah yang harus diobati dengan ikhtiar medis.
Namun, sebagai seorang mukmin, kita juga tidak boleh menutup mata terhadap kemungkinan adanya godaan setan yang memanfaatkan kelemahan hati manusia. Di sinilah pentingnya keseimbangan antara ikhtiar lahir dan ikhtiar batin.
Sesungguhnya, pertarungan terbesar bukanlah melihat jin dengan mata kepala, melainkan menjaga hati agar tidak dikuasai kesombongan. Ketika seseorang mulai merasa paling benar, paling suci, paling hebat, atau paling berjasa, saat itulah pintu godaan setan terbuka semakin lebar.
Godaan itu tidak mengenal status. Seorang pejabat dapat terjebak oleh cinta kekuasaan. Seorang pengusaha dapat diperbudak oleh harta. Seorang tokoh agama pun tidak luput dari ujian riya’, ujub, dan kesombongan apabila ilmunya tidak lagi bersandar kepada Al-Qur’an dan sunnah Rasulullah SAW. Ceramah yang seharusnya menyejukkan dapat berubah menjadi penuh kemarahan, merasa paling benar, mudah menghakimi, bahkan menjadikan ayat-ayat Allah sebagai pembenaran bagi hawa nafsunya.
Semua itu patut menjadi bahan muhasabah, bukan untuk menghakimi orang lain, melainkan untuk mengoreksi diri sendiri.
Sesungguhnya, kemenangan terbesar iblis bukanlah ketika manusia melakukan dosa besar, tetapi ketika manusia merasa dirinya tidak mungkin salah. Kesombongan itulah yang dahulu membinasakan iblis. Ia menolak perintah Allah untuk menghormati Nabi Adam AS karena merasa dirinya lebih mulia, diciptakan dari api, sedangkan Adam dari tanah. Kesombongan menjadi awal dari seluruh pembangkangan.
Bukankah dalam kehidupan sekarang kita sering menyaksikan manusia saling menjatuhkan demi jabatan, kedudukan, pangkat, kehormatan, dan kekayaan ? Persaingan berubah menjadi permusuhan, kritik berubah menjadi kebencian, persaudaraan dikalahkan oleh ambisi duniawi.
Ketika dunia telah dipertuhankan, sesungguhnya manusia sedang kehilangan arah hidupnya. Padahal dunia hanyalah persinggahan yang sangat singkat. Jabatan akan berakhir, harta akan ditinggalkan, popularitas akan dilupakan, sementara amal dan keimananlah yang akan menemani perjalanan menuju kehidupan akhirat.
Karena itu, marilah kita terus memohon rahmat, hidayah, magfirah, dan ridha Allah SWT. Perbanyak membaca Al-Qur’an, berzikir, menjaga salat, memperbaiki akhlak, serta senantiasa mengikuti tuntunan Rasulullah SAW. Dengan benteng keimanan itulah, seorang mukmin berharap mendapat perlindungan Allah dari segala bentuk godaan setan, baik yang berasal dari golongan jin maupun manusia.
Karena itu, 10 hari Tahun Baru Islam 1448 H yang kita kenal dengan sebutan Asyuro’ baru saja kita jalani sebagai puncak ritual muhasabah (khalwat), semoga Allah SWT menjadikan kita hamba-hamba yang istiqamah, dijauhkan dari kesombongan, hawa nafsu yang menyesatkan, serta segala tipu daya setan hingga akhir hayat.
Wallāhu a’lam bish-shawāb.
Subhānallāh wa bihamdihi, astaghfirullāh wa atūbu ilaih.(*)
Penulis Adalah :
1. Wapimred Media Online Siber Nusa-Antara. com.
2. Wartawan SKH Balikpapan Pos ( grup jawa pos ) Tahun 2002-2020.

















