Kesenian Bantengan Meriahkan Haflah Akhirussanah YPI Praja Putra Sentul 2026

JOMBANG MEDIA NUSA-ANTARA.com – Haflah Akhirussanah Yayasan Pendidikan Islam (YPI) Praja Putra Sentul, Kecamatan Tembelang, Kabupaten Jombang, tahun 2026 berlangsung meriah sekaligus sarat nilai edukatif dan budaya.

Konsep perayaan akhir tahun ajaran yang menampilkan kreativitas peserta didik dari jenjang Kelompok Bermain (KB), Raudlatul Athfal (RA), hingga Madrasah Ibtidaiyah (MI) tersebut dikemas lebih modern tanpa meninggalkan akar tradisi.

Rangkaian kegiatan diawali dengan Khotmil Qur’an yang dilaksanakan setelah salat Isya di Masjid YPI Praja Putra, Selasa (16/6/2026). Suasana haru dan khidmat semakin terasa saat prosesi sungkeman berlangsung secara sakral sebagai bentuk penghormatan siswa kepada orang tua dan para guru.

Salah satu kekuatan YPI Praja Putra adalah kemampuannya menjaga dan merawat tradisi di tengah perkembangan zaman. Haflah Akhirussanah menjadi ruang pertemuan berbagai elemen masyarakat, mulai dari pendidik, tokoh masyarakat, pemerintah, wali murid, peserta didik, pelaku UMKM dan pedagang kaki lima, hingga masyarakat umum. Mereka berkumpul dalam suasana kebersamaan melalui dzikir, shalawat, tausiyah, serta berbagai pertunjukan seni budaya.

Selain menampilkan shalawat, tari daerah, dan berbagai kreasi seni dari siswa KB, RA dan MI, acara yang digelar Rabu (17/6/2026) tersebut juga menyuguhkan tarian semaphore dan drama teatrikal yang dikemas secara edukatif. Namun, penampilan yang paling menyita perhatian tamu undangan dan wali murid adalah pertunjukan Kesenian Bantengan yang dibawakan oleh para siswa Madrasah Ibtidaiyah.
Penampilan tersebut sejalan dengan tema Haflah Akhirussanah tahun ini, yakni “Membangun Peserta Didik Melalui Kearifan Lokal.”

Ketua YPI Praja Putra, Gus Faiz, mengatakan, penampilan Bantengan merupakan bagian dari upaya lembaga pendidikan yang dipimpinnya untuk ikut melestarikan budaya lokal yang menjadi warisan masyarakat Jawa Timur, khususnya Kabupaten Jombang.

“Penampilan kesenian Bantengan dalam Haflah Akhirussanah ini merupakan bentuk partisipasi kami dalam melestarikan kearifan lokal. Kesenian ini memadukan unsur sendratari, musik, dan simbol-simbol budaya yang mencerminkan semangat serta karakter masyarakat Jawa Timur,” ujar Gus Faiz.

Menurutnya, pertunjukan Bantengan juga memiliki makna filosofis yang relevan dengan momentum pelepasan siswa menuju jenjang pendidikan berikutnya.

“Gerakan Bantengan yang lincah dan penuh semangat menjadi simbol pantang menyerah bagi para siswa yang akan melanjutkan perjalanan pendidikan mereka ke tingkat yang lebih tinggi,” imbuhnya.

Kesenian Bantengan sendiri merupakan seni pertunjukan tradisional khas Jawa Timur yang memadukan unsur tari, pencak silat, musik gamelan, dan berbagai simbol budaya yang berkembang di tengah masyarakat. Lebih dari sekadar hiburan, Bantengan menjadi media pelestarian budaya, penguat identitas masyarakat agraris, sekaligus sarana menanamkan nilai-nilai keberanian, kekuatan, gotong royong, dan keharmonisan dengan alam.

Meski sempat mengalami pasang surut dalam perkembangannya, kesenian Bantengan kini kembali mendapat tempat di tengah masyarakat dan menjadi salah satu identitas budaya yang terus diwariskan kepada generasi muda.

Dalam kesempatan tersebut, Gus Faiz juga menegaskan bahwa YPI Praja Putra tetap berpegang teguh pada prinsip yang selama ini menjadi pedoman kalangan Nahdlatul Ulama, yakni Al-Muhafazhatu ‘Alal Qadimis Shalih wal Akhdzu bil Jadidil Ashlah.

“Prinsip kami adalah menjaga tradisi lama yang baik dan mengambil hal-hal baru yang lebih baik. Karena itu kami terus mempertahankan nilai-nilai moral, adab, silaturahmi, amalan ibadah, serta budaya luhur yang tidak bertentangan dengan ajaran agama. Di sisi lain, kami juga terbuka terhadap perkembangan zaman, termasuk pemanfaatan teknologi digital dan berbagai inovasi yang membawa kemaslahatan bagi umat,” pungkasnya.

Melalui perpaduan antara nilai religius, pendidikan karakter, dan pelestarian budaya lokal, Haflah Akhirussanah YPI Praja Putra Sentul tahun 2026 menjadi bukti bahwa lembaga pendidikan mampu mencetak generasi yang berakhlak mulia, berwawasan modern, sekaligus tetap berakar kuat pada tradisi dan budaya bangsa.(gus)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *