JOMBANG MEDIA NUSA ANTARA.Com – Di tengah berbagai tantangan kehidupan yang semakin kompleks, terutama tekanan ekonomi yang dirasakan banyak masyarakat, manusia diajak untuk kembali memperkuat hubungan spiritual dengan Allah SWT. Pesan itulah yang disampaikan pengasuh DPP Yayasan Majelis Zhikir Asmaul Haq, Kabupaten Jombang KH M. Soubari, S.Ag dalam ceramah agama di hadapan para jamaah Majelis Zikir Asmaul Haq dan peringatan Tahun Baru Islam 1 Muharam yang berlangsung dua hari, Senin-Selasa (15-16/6/2026).
Dalam tausiyahnya, Almukkaram KH M. Soubari mengingatkan bahwa kesehatan dan waktu luang merupakan dua nikmat besar yang sering dilalaikan manusia. Padahal keduanya adalah kesempatan berharga untuk memperbanyak amal saleh sebagai bekal kehidupan akhirat.
Menurut kyai alumnus Ponpes Gontor dan Langitan Tuban, Jatim ini, kondisi ekonomi yang sedang sulit saat ini membuat banyak orang hidup dalam keterbatasan. Harga kebutuhan pokok yang terus meningkat memaksa masyarakat untuk lebih berhati-hati dalam mengatur pengeluaran. Di sisi lain, para pedagang juga merasakan dampaknya karena daya beli masyarakat menurun.
“Pada masa-masa seperti sekarang ini, yang harus diperkuat adalah ketergantungan kepada Allah. Jangan sampai hati lebih bergantung kepada manusia, kelompok, atau kekuatan duniawi dibandingkan kepada Sang Pencipta,” tuturnya penuh pesan dalam.

Ia mengutip nasihat ulama yang mengajarkan bahwa semakin kuat seseorang bergantung kepada makhluk, maka semakin sedikit bagian pertolongan yang ia rasakan dari Allah. Sebaliknya, ketika hati semakin dekat kepada Allah, maka pertolongan dan kasih sayang-Nya akan semakin luas dirasakan dalam kehidupan.
Mantan dosen Universitas Darul Ulum (Undar) Jombang ini menegaskan, bahwa berbagai kesulitan hidup, termasuk persoalan ekonomi, sejatinya merupakan bagian dari takdir dan ujian Allah yang harus dihadapi dengan kesabaran. Meski tidak mudah, seorang mukmin dituntut untuk menerima ketentuan Allah dengan hati lapang.
Dalam kesempatan itu, ia juga menjelaskan perbedaan antara ikhlas dan ridha. Ikhlas adalah melakukan sesuatu semata-mata karena Allah SWT, sedangkan ridha adalah menerima dan menjalani ketentuan Allah dengan hati yang senang dan lapang.

“Kalau kita menjalankan ibadah semata-mata karena Allah, itu ikhlas. Tetapi jika disertai kegembiraan dan kelapangan hati dalam menjalankannya, itulah ridha,” jelasnya.
Menurutnya, sifat ridha bukanlah sesuatu yang mudah dimiliki. Ia membutuhkan latihan panjang melalui berbagai ujian kehidupan. Demikian pula ikhlas dan sabar, semuanya memerlukan proses pembiasaan yang terus-menerus.
Soubari kemudian mengingatkan sebuah hadis qudsi yang maknanya menegaskan bahwa siapa yang tidak ridha terhadap ketentuan Allah dan tidak sabar menghadapi ujian-Nya, maka ia seolah diminta mencari Tuhan selain Allah. Padahal, seluruh manusia hidup di bawah kekuasaan dan ketetapan-Nya.
Karena itu, ia mengajak jamaah untuk menerima segala takdir dengan kesabaran dan keyakinan bahwa Allah adalah Dzat yang mengatur rezeki, kehidupan, serta perjalanan setiap hamba-Nya.
Menjelang akhir ceramah, Soubari selalu mengingatkan pentingnya menjaga ketenangan jiwa agar kelak termasuk golongan hamba yang diridhai Allah. Ia mengutip firman Allah dalam Surah Al-Fajr ayat 27-28:
“Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha dan diridhai.”
Ayat tersebut, menurutnya, merupakan kabar gembira bagi orang-orang yang sepanjang hidupnya berusaha menjaga keikhlasan, kesabaran, dan keridhaan kepada Allah SWT.
“Semoga kita semua diberi kekuatan untuk bersabar menghadapi ujian, istiqamah dalam beribadah, dan pada akhir kehidupan mendapatkan panggilan mulia dari Allah sebagai jiwa yang tenang, yang kembali kepada-Nya dalam keadaan ridha dan diridhai,” ujarnya.
Sebagai penutup ceramahnya, Soubari mengingatkan, jamaah agar tidak hanya memahami ajaran agama secara teori, tetapi juga mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Ia mengajak umat Islam untuk memperbanyak zikir, shalawat, dan amalan-amalan yang diwariskan para ulama sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Menurutnya, di tengah berbagai kesulitan hidup yang dihadapi masyarakat saat ini, kekuatan spiritual menjadi bekal penting agar hati tetap tenang dan tidak mudah putus asa. Setiap ujian hendaknya dihadapi dengan kesabaran, keikhlasan, serta keyakinan bahwa Allah adalah Dzat yang mengatur seluruh perjalanan hidup manusia, termasuk rezeki dan segala ketentuan yang telah ditetapkan-Nya.
Karena itu, Soubari mengajak jamaah untuk saling mendoakan dalam kebaikan. Secara khusus, ia memohon doa bagi rombongan jamaah yang melaksanakan perjalanan ibadah agar diberikan keselamatan, kesehatan, kemudahan, dan keberkahan oleh Allah SWT.
“Semoga Allah memberikan kelancaran dalam setiap urusan, melimpahkan keberkahan kepada kita semua, serta menjadikan tahun baru Hijriah ini sebagai momentum untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada-Nya,” ujarnya.
Ceramah kemudian ditutup dengan doa bersama yang diikuti seluruh jamaah dengan penuh kekhusyukan. Lantunan zikir dan munajat yang menggema di majelis menjadi penanda harapan agar setiap langkah kehidupan senantiasa berada dalam bimbingan, rahmat, dan perlindungan Allah SWT.
Malam 1 Syuro Sarat Makna Spiritualisme
Malam pergantian Tahun Baru Islam 1 Muharam 1448 Hijriyah menjadi momentum yang bernilai tinggi bagi seluruh umat Islam dunia. Pasalnya, di sejumlah daerah di tanah air khususnya, peringatan 1 Muharam menjadi ajang forum sakral umat Islam untuk menggelar berbagai acara doa syukuran, istighotsah, sholawat dan ritual bagi penganut aliran Sufi Tassawuf.
Di Kabupaten Jombang sendiri, kegiatan seperti itu yang sarat makna digelar di sejumlah tempat, baik ormas Islam, majelis zhikir, yayasan, pesantren-pesantren, masjid, musala serta kelompok-kelompok pegiat kebudayaan luhur. Pemkab Jombang secara resmi juga menggelar doa bersama sebagai rasa syukur datangnya Tahun Baru Islam 1 Muharam yang dihadiri masyarakat, sejumlah pejabat penting terkait, tokoh masyarakat dan tokoh agama.
Momentum penting 1 Muharam ini juga diperingati secara khusus oleh Majelis Zhikir Asmaul Haq Pusat, Dusun Mancar, Kecamatan Jombang, dengan menggelar istighotsah akbar yang dihadiri ratusan jamaah Asmaul Haq dari sejumlah kota dan kabupaten di tanah air. Malam 1 Syuro menjadi agenda khusus rutinan setiap tahun yang diisi berbagai acara ritual dan gemblengan rohani yang disampaikan Mujiz Asmaul Haq KH M Soubari, SAg yang dipusatkan di halaman Musala Darussalam, Dusun Mancar.
Kegiatan yang sama juga digelar oleh pengurus besar PB NH Perkasya di Markas Besar NH Perkasya, Cukir, Tebuireng, Jombang yang merupakan pusat santri Ponpes Tebuireng Jombang. Ratusan warga, pengurus, pendekar dan Dewan Pendekar NH Perkasya yang datang dari berbagai daerah tumplek bleg dalam nuansa religi 1 Syuro ini.
Kegiatan baiatan yang diikuti para pesilat muda NH Perkasya yang berhasil menyelesaikan proses pendidikan dan pelatihan sebagai anggota pencak silat hingga lulus meraih predikat pendekar sejati NH Perkasya yang dilakukan oleh Guru Besar NH Perkasya, disaksikan tokoh-tokoh elit pendekar NH Perkasya di antaranya KH Lamroh, KH Sholihan sekjen PB NH Perkasya, KH Agus Maulana ketua umum PB NH Perkasya dan KH Abdul Malik. (gus)

















