JOMBANG, MEDIA NUSA-ANTARA.com — Semangat perjuangan Raden Ajeng Kartini kembali menemukan relevansinya di era modern. Peringatan Hari Kartini pada 21 April 2026 bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan refleksi atas kiprah perempuan masa kini yang kian menegaskan perannya di berbagai lini kehidupan.
Di tengah arus zaman yang terus bergerak, perempuan tak lagi berada di pinggir panggung. Mereka hadir di ruang-ruang strategis—di pemerintahan, dunia usaha, militer, hingga sektor pelayanan publik. Salah satu sosok yang mencerminkan semangat itu adalah Suhartina Perwirawati kelahiran Kota Bojonegoro ini.
Perempuan yang akrab disapa Tina ini meniti karier di BPJS Kesehatan sejak Tahun 2008. Dalam perannya, ia menunjukkan bahwa perempuan mampu berdiri sejajar dengan laki-laki, bukan hanya dalam kompetensi, tetapi juga dalam dedikasi dan kepemimpinan.
Bagi Tina, Kartini bukan sekadar nama dalam buku sejarah. Ia adalah simbol keberanian untuk berpikir maju, bersuara, dan mandiri.
“RA Kartini mengajarkan bahwa perempuan berhak memperoleh kesempatan yang sama—baik dalam pendidikan maupun dalam mengambil peran strategis. Nilai itu sangat relevan dengan apa yang kami jalani hari ini,” ujarnya saat ditemui di Kantor BPJS Kesehatan Jombang, Kawasan Ruko Cempaka, Mojongapit, siang kemarin.
Dalam kesehariannya, Tina memaknai perjuangan Kartini sebagai panggilan untuk mengabdi melalui pelayanan publik yang berintegritas. Baginya, bekerja di sektor kesehatan bukan sekadar profesi, tetapi juga amanah sosial.
Ia menegaskan bahwa perempuan memiliki kapasitas yang utuh untuk berpikir, mengambil keputusan, dan memimpin. Prinsip itulah yang ia pegang dalam menjalankan tugas, terutama dalam mendukung program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).
“Setiap kebijakan dan pelayanan yang kami lakukan berdampak langsung pada masyarakat. Di situlah nilai Kartini hidup—dalam keberanian mengambil tanggung jawab dan menghadirkan pelayanan yang adil tanpa diskriminasi,” tutur Tina lulusan PTN Airlangga Surabaya ini.
Di balik keteguhan langkahnya, Tina menyimpan satu sumber inspirasi yang sederhana namun mendalam, yaknk sosok ibunya. Dari perempuan itulah ia belajar tentang kerja keras, keteguhan hati, dan arti pantang menyerah.
Namun perjalanan itu tidak tanpa tantangan. Di sektor kesehatan, Tina dihadapkan pada realitas bahwa belum seluruh masyarakat Jombang terlindungi secara optimal oleh program JKN.
Saat ini, kata Tina, cakupan kepesertaan baru mencapai 96,25 persen, dengan tingkat keaktifan sekitar 69,62 persen—masih di bawah target nasional.
Kondisi tersebut menuntut kerja kolektif. Tina menekankan pentingnya sinergi antara BPJS Kesehatan, pemerintah daerah, dan seluruh pemangku kepentingan untuk memastikan layanan kesehatan yang merata dan berkelanjutan.
“Pendekatan kami tidak hanya profesional, tetapi juga humanis. Perempuan di BPJS Kesehatan turut menjadi bagian penting dalam mewujudkan akses kesehatan yang inklusif bagi masyarakat,” katanya.
Lebih jauh, ia melihat bahwa kesetaraan gender di Kabupaten Jombang telah menunjukkan perkembangan yang menggembirakan. Banyak perempuan kini menduduki posisi strategis di berbagai sektor, menjadi “srikandi” yang berkontribusi nyata dalam pembangunan daerah.
Tina pun membayangkan, jika Kartini hidup di masa kini, perjuangannya akan menjelma dalam upaya memperjuangkan keadilan sosial—terutama di bidang pendidikan dan kesehatan.
“Tidak boleh ada lagi sekat. Semua orang, tanpa memandang latar belakang, harus memiliki hak yang sama atas layanan kesehatan,” ujarnya.
Di penghujung perbincangan, Tina menyampaikan harapannya : agar perempuan Jombang semakin berdaya, sehat, dan berpendidikan. Ia ingin melihat lebih banyak perempuan berani mengambil peran strategis, tanpa kehilangan nilai-nilai empati dan pengabdian.
Melalui program JKN, ia percaya bahwa perlindungan kesehatan bagi perempuan—dari ibu, anak hingga lansia—akan menjadi fondasi penting bagi masa depan yang lebih adil.
Di sosok Tina, semangat Kartini tidak lagi berhenti sebagai narasi sejarah. Ia hidup, bergerak, dan menjelma dalam kerja nyata—sunyi namun berdampak, sederhana namun penuh makna.(gus)

















