JOMBANG MEDIA NUSA-ANTARA.com – Pelaksanaan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Jombang dinilai tidak cukup hanya menghadirkan kemeriahan dan jumlah peserta yang besar. Momentum tersebut juga harus mampu memberikan dampak nyata bagi perekonomian warga, khususnya masyarakat Nahdliyin dan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Pandangan tersebut disampaikan Ketua organisasi Jombang Ibukota Nahdliyin (Jombang-IKN), KH. Muhtazuddin. Ia menilai, besarnya Muktamar NU semestinya menjadi momentum strategis untuk menggerakkan sekaligus memperkuat ekonomi umat.
“NU memiliki basis massa yang sangat besar dengan jaringan pesantren, lembaga pendidikan, badan otonom, jamaah, pengusaha hingga pelaku UMKM yang tersebar di berbagai daerah,” kata Muhtazuddin kepada media ini, Kamis (20/8/2026).
Kekuatan tersebut, kata dia, seharusnya dapat dikonsolidasikan menjadi kekuatan ekonomi yang memberikan manfaat langsung kepada warga.
“NU ini organisasi umat yang sangat besar. Seharusnya dalam setiap hajatan besar, termasuk Muktamar, ada keberpihakan yang nyata terhadap pemberdayaan usaha umat. Jangan sampai warga Nahdliyin hanya menjadi penonton ketika terjadi perputaran ekonomi yang besar,” tegasnya.
Ia menegaskan, Muktamar tidak semestinya hanya dipandang sebagai forum musyawarah dan konsolidasi organisasi. Lebih dari itu, Muktamar harus bisa menjadi etalase sekaligus pasar bagi produk-produk warga NU.
Salah satu bentuk keberpihakan yang dinilai paling konkret, menurut dia, adalah menyediakan ruang khusus bagi UMKM, terutama pelaku usaha kecil dari kalangan Nahdliyin dan masyarakat sekitar lokasi Muktamar.
Bahkan, mantan aktivis gerakan pemuda Ansor Jombang ini, pihaknya berharap lapak UMKM dapat diberikan secara gratis atau dengan biaya yang sangat ringan sehingga tidak menjadi beban tambahan bagi pelaku usaha kecil.
“Kalau NU menggelar hajatan sebesar Muktamar, semestinya warga Nahdliyin diberikan ruang khusus. Kalau bisa lapak UMKM digratiskan, bukan malah menjadi beban tambahan bagi pelaku usaha kecil. Mereka datang untuk ikut meramaikan sekaligus mencari penghasilan. Di situlah fungsi pemberdayaan umat harus terlihat,” kritiknya.
Pasar Ngerawan Harus Jadi Etalase Ekonomi Warga
Kritik tersebut menjadi relevan dengan adanya wacana menjadikan Pasar Ngerawan sebagai salah satu lokasi pameran UMKM selama rangkaian Muktamar ke-35 NU.
Menurut Muhtazuddin, keberadaan lokasi tersebut seharusnya tidak berhenti pada penyediaan tempat berjualan. Lebih jauh, perlu dibangun ekosistem ekonomi yang benar-benar memberikan ruang dan keuntungan bagi pelaku usaha lokal.
Produk warga NU, kata dia, semestinya mendapatkan prioritas, promosi, akses pasar, hingga pendampingan selama pelaksanaan Muktamar.
Sebab, berkumpulnya ribuan bahkan puluhan ribu orang dalam satu momentum merupakan potensi pasar yang sangat besar. Potensi tersebut akan menjadi sia-sia apabila hanya menghasilkan keramaian tanpa memberikan manfaat ekonomi yang signifikan bagi masyarakat sekitar.
“Jangan sampai Muktamar hanya ramai, tetapi setelah acara selesai tidak meninggalkan apa-apa bagi ekonomi warga. Ukuran keberhasilannya bukan hanya berapa banyak UMKM yang ikut, tetapi juga apakah mereka mendapatkan omzet, produknya terjual, dan setelah Muktamar mereka memiliki pasar baru,” katanya.
Ia menilai, keberhasilan pemberdayaan ekonomi umat harus dapat dilihat dari dampak yang dirasakan secara langsung oleh masyarakat.
Karena itu, Muktamar ke-35 NU di Jombang diharapkan tidak hanya meninggalkan jejak dalam bentuk keputusan organisasi, tetapi juga meninggalkan jejak ekonomi bagi warga Nahdliyin dan masyarakat lokal.
Jangan Hanya Jadi Pasar Sesaat
Muhtazuddin menyebut NU memiliki modal sosial yang luar biasa besar. Jika kekuatan jamaah dan jaringan organisasi tersebut dikelola secara serius, bukan tidak mungkin NU memiliki ekosistem ekonomi umat yang kuat dan berkelanjutan.
Dalam konteks itu, Muktamar ke-35 NU dapat menjadi momentum untuk membuktikan bahwa kekuatan jumlah warga Nahdliyin tidak hanya besar secara sosial dan organisasi, tetapi juga mampu diterjemahkan menjadi kekuatan ekonomi.
Pasar Ngerawan, misalnya, menurut dia, dapat menjadi salah satu simbol keberhasilan tersebut. Bukan sekadar menjadi lokasi pameran atau pasar sementara selama Muktamar, tetapi menjadi pintu masuk bagi terbentuknya jaringan perdagangan dan pemasaran produk warga NU secara berkelanjutan.
“Jangan sampai setelah Muktamar selesai, semuanya kembali seperti semula. Kalau bisa, ada keberlanjutan. Produk UMKM yang diperkenalkan selama Muktamar memiliki pasar baru, jaringan baru, dan pelanggan baru,” ujarnya.
Karena itu, ia mendorong panitia Muktamar bersama pemerintah daerah agar menjadikan pemberdayaan UMKM sebagai bagian penting dari keberhasilan pelaksanaan Muktamar.
Penyediaan lapak gratis atau terjangkau, prioritas bagi UMKM Nahdliyin dan masyarakat lokal, promosi produk, kemudahan akses pembeli serta target transaksi yang jelas dinilai dapat menjadi langkah konkret.
Pada akhirnya, menurut Muhtazuddin, kebesaran sebuah Muktamar tidak hanya diukur dari meriahnya acara dan banyaknya orang yang hadir.
Lebih dari itu, kebesaran Muktamar juga seharusnya tercermin dari seberapa besar manfaat yang dirasakan masyarakat.
“NU tidak kekurangan massa. Yang menjadi pekerjaan rumah adalah bagaimana massa yang besar itu juga memiliki daya ekonomi yang besar,” pungkasnya. (gus)

















