JOMBANG, MEDIA NUSA-ANTARA.com – Masjid Riyadhul Jannah, Kauman Utara Gang 1, Desa Jombang, Kecamatan Jombang, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, menggelar rangkaian kegiatan Peringatan 10 Muharam 1448 Hijriah yang dihadiri ratusan jamaah, Jumat (26/6/2026) malam.
Kegiatan yang dikemas dalam bentuk santunan kepada anak yatim dan kaum dhuafa tersebut diawali pengajian Istighotsah, Tahlil dan Sholawatan yang dihadiri penceramah kondang asal Denanyar, Jombang, KH Khairil Anam.
Sebelum tausiyah dimulai, acara diawali dengan sambutan dari pengurus MWCNU Jombang Raya dan Takmir Masjid Riyadhul Jannah.
Wakil Ketua MWCNU Jombang Raya, Ustaz Wildan, mengajak seluruh jamaah meluruskan niat dalam mengikuti kegiatan tersebut.

“Mari kita niatkan dengan tulus dan ikhlas untuk menyenangkan anak-anak yatim dan kaum dhuafa,” ajak Wildan, ustad muda yang energik ini.
Wildan mengatakan, momentum 10 hari Muharam atau Hari Asyura merupakan waktu yang sangat dianjurkan untuk memperbanyak sedekah, terutama kepada anak yatim dan masyarakat kurang mampu. Amal yang dilakukan dengan penuh keikhlasan, kata dia, akan menjadi pahala yang terus mengalir di sisi Allah SWT.
“Acara ini bukan sekadar seremonial, tetapi menjadi momentum untuk mengubah diri agar kualitas hidup kita semakin baik,” tuturnya.
Sementara itu, Ketua Takmir Masjid Riyadhul Jannah, Ustaz Muhammad Fadhil, menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada seluruh jamaah, alim ulama, tokoh masyarakat, para donatur, serta panitia yang telah mencurahkan waktu, tenaga, pikiran, dan rezeki sehingga kegiatan dapat terselenggara dengan lancar.
“Semoga setiap amal kebaikan yang telah diberikan mendapat balasan yang berlipat ganda dari Allah SWT,” ucapnya.

Dosen Universitas KH A. Wahab Hasbullah (Unwaha) Tambakberas itu menambahkan, Muharam merupakan salah satu bulan yang dimuliakan Allah SWT. Karena itu, peringatan 10 Muharam hendaknya dijadikan momentum untuk meningkatkan keimanan, memperbanyak amal saleh, mempererat ukhuwah Islamiyah, serta menumbuhkan kepedulian terhadap sesama, khususnya anak yatim dan masyarakat yang membutuhkan.
Ia berharap kegiatan tersebut tidak hanya menjadi agenda tahunan, tetapi juga menjadi sarana memperkuat syiar Islam sekaligus memakmurkan Masjid Riyadhul Jannah yang menyimpan banyak sejarah tempat berkumpulnya sejumlah tokoh kharismatik nasional ini, seperti Hadratusyaikh Mbah Hasyim Asyari, Mbah Yai Bisri Sansuri, Gus Dur dan Mbah Wahab Hasbullah sebagai pusat ibadah, diskusi, pendidikan dan pembinaan umat.
“Sekali lagi kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah mendukung terselenggaranya acara ini. Semoga Allah SWT senantiasa memberikan keberkahan kepada kita semua, menjaga persatuan dan kerukunan masyarakat, serta menerima seluruh amal ibadah kita,” pungkas Fadhil yang diamini para jamaah.
Menjelang puncak acara tausiyah oleh KH Khairil Anam, panitia bersama para tokoh agama secara bergiliran menyerahkan bingkisan kepada anak-anak yatim dan kaum dhuafa. Prosesi berlangsung khidmat, diiringi lantunan sholawat dari grup rebana Masjid Riyadhul Jannah yang usianya 1 abad lebih ini.
Kegiatan tersebut juga dihadiri perangkat Desa Jombang, pengurus Ranting NU Desa Jombang, jajaran MWCNU Jombang Raya, tokoh agama, tokoh masyarakat, serta tamu undangan lainnya.
Dalam ceramahnya, KH Khairil Anam mengajak seluruh jamaah menjadikan Tahun Baru Islam Hijriah ini sebagai momentum untuk melakukan introspeksi dan memperbaiki diri. Menurutnya, pergantian tahun bukan sekadar perubahan angka dalam kalender Islam, tetapi harus diikuti dengan perubahan sikap, akhlak, dan kualitas ibadah.
“Ketika tahun telah berganti, maka diri kita juga harus berubah menjadi lebih baik. Jangan sampai tahun terus berganti, tetapi perilaku, ibadah, dan keimanan kita tidak mengalami perubahan. Tahun baru Hijriah adalah saat yang tepat untuk bermuhasabah, mengevaluasi diri, lalu memperbaiki apa yang masih kurang,” tutur KH Khairil Anam.
Dengan gaya khasnya, Khairil Anam mencoba menghidupkan suasana acara santunan anak-anak yatim dan dhuafa menjadi cair, dengan joke-joke segarnya agar seluruh jamaah tidak mengantuk.
Khairil mengingatkan, setiap manusia pasti akan bertambah usia. Karena itu, bertambahnya umur harus diiringi dengan bertambahnya ilmu, kedewasaan, ketakwaan, serta amal saleh. Jangan sampai usia semakin tua, tetapi justru lalai dalam menjalankan perintah Allah SWT.
Khairil Anam juga mengajak jamaah agar tidak terjebak pada kebiasaan-kebiasaan lama yang kurang bermanfaat. Setiap muslim harus berani meninggalkan perilaku yang tidak baik dan menggantinya dengan kebiasaan yang lebih baik, baik dalam beribadah, bermasyarakat, maupun dalam kehidupan sehari-hari.
Ia menegaskan, Allah SWT memberikan kesempatan kepada manusia melalui pergantian waktu agar terus memperbaiki diri. Karena itu, setiap datangnya Tahun Baru Hijriah hendaknya dijadikan sebagai pengingat untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT, memperbanyak ibadah, memperkuat silaturahmi, serta meningkatkan kepedulian kepada sesama.
“Dunia ini penuh dengan masalah, ketika manusia sudah memasuki masa tua, pelan-pelan seluruh anggota tubuh mengalami perubahan, misalnya pandangan mata mulai kabur, pendengaran tak lagi normal, tulang-tulang mulai rapuh. Makan tak lagi nikmat, karena bosan. Contohnya makan rawon, makan soto setiap hari ‘kan bosan dan sebagainya. Jadi, dunia ini dipenuhi masalah manusia,” ungkap Khairil dengan menggunakan dialetika jawa yang disambut tertawa jamaah ibu-ibu.
Di akhir tausiyahnya, Khairil Anam seorang pendakwah muda yang memiliki jam terbang yang padat ini mengajak seluruh jamaah memanfaatkan setiap kesempatan hidup dengan sebaik-baiknya. Sebab, waktu yang telah berlalu tidak akan pernah kembali. Karena itu, setiap muslim hendaknya mengisi hari-harinya dengan amal kebaikan agar menjadi bekal ketika menghadap Allah SWT kelak.
Untuk diketahui, Idul Yatama dalam tradisi dan pandangan Nahdlatul Ulama (NU) khususnya adalah sebutan kultural untuk “Lebaran Anak Yatim” yang diperingati setiap tanggal 10 Muharram.
Istilah ini bukan hari raya wajib dalam syariat Islam, melainkan momentum syiar untuk memuliakan dan membahagiakan anak yatim melalui amaliyah santunan.
Makna dan Sejarah Idul Yatama merupakan ungkapan kegembiraan : Istilah ini bermakna hari raya atau hari kebahagiaan bagi anak yatim karena pada tanggal tersebut, mereka mendapatkan limpahan perhatian, kasih sayang, dan santunan dari masyarakat.
Tradisi budaya, bahwa NU memandang penyebutan “Lebaran” ini sebagai tradisi yang baik (‘urf), yang lahir dari dorongan ajaran Islam untuk mencintai dan menyantuni anak yatim, khususnya di hari Asyura (10 Muharram).
Bukan Hari Raya Syariat
Kalangan ulama NU (seperti di lingkungan pesantren) meluruskan bahwa Idul Yatama bukanlah hari raya formal seperti Idul Fitri dan Idul Adha. Namun, hari tersebut sangat dianjurkan untuk memperbanyak amal saleh karena memiliki keutamaan yang besar.
Berdasarkan tradisi Nahdliyin, terdapat beberapa amalan yang dianjurkan pada momentum Idul Yatama : Menyantuni dan menjamu, memberikan sedekah, makanan, atau bantuan yang dapat meringankan beban dan membawa keceriaan bagi anak-anak yatim.
Mengusap Kepala Anak Yatim
Nabi Agung Muhammad Rasulullah SAW menganjurkan untuk mengusap kepala anak yatim sebagai simbol kasih sayang yang tulus, sehingga mengalir pahala berlipat bagi yang menyantuni anak yatim, yang dijanjikan kedekatan dengan Rasulullah SAW di surga kelak, seperti dekatnya jari telunjuk dan jari tengah.(gus)

















