Fatayat NU United Kingdom Dorong Perempuan Muda Jadi Pemimpin Transformasi Global

JOMBANG MEDIA NUSA-ANTARA.com – Perempuan muda, termasuk diaspora Indonesia di luar negeri, didorong untuk tampil sebagai pelaku perubahan dan bukan sekadar menjadi penonton dalam dinamika global yang terus berkembang. Peran perempuan saat ini dinilai semakin penting, tidak hanya di ranah domestik, tetapi juga dalam berbagai sektor kehidupan publik yang bersifat lintas negara dan lintas budaya.

Pesan tersebut mengemuka dalam International Young Women Forum (IYWF) 2026 yang diselenggarakan oleh PCI Fatayat NU United Kingdom di University of Warwick serta diikuti secara daring melalui Zoom, Sabtu (20/6/2026). Forum internasional ini mengangkat tema “Leading the Future: Women at the Forefront of Global Transformation” atau Perempuan di Garis Depan Transformasi Global.

Kegiatan yang berlangsung dalam dua bahasa, Inggris dan Indonesia, menghadirkan sejumlah tokoh dari berbagai latar belakang profesi, mulai dari bidang kesehatan, pendidikan, diplomasi, hingga keagamaan.

Pada panel pertama bertajuk “Leading with Purpose: Women Advancing Equity and Inclusion Across Sectors”, hadir Sara Javid, Shehla Imtiaz-Umer, dan Paul Salahuddin Armstrong.

Dalam paparannya, Sara Javid menyoroti persoalan ketimpangan kesehatan yang menurutnya tidak hanya berkaitan dengan layanan medis semata, tetapi juga dipengaruhi faktor kepercayaan masyarakat, akses informasi, kondisi ekonomi, etnisitas, hingga pengalaman keagamaan.

Dengan pengalaman selama 18 tahun di bidang kesehatan publik dan NHS, ia menekankan pentingnya pendekatan berbasis data, komunikasi yang mudah dipahami, serta sensitivitas terhadap kebutuhan komunitas dalam meningkatkan akses layanan kesehatan.

Sementara itu, Shehla Imtiaz-Umer mengingatkan bahwa perjuangan mewujudkan kesetaraan dan inklusi membutuhkan integritas serta keberanian untuk menyuarakan kebenaran, meskipun tidak selalu nyaman didengar. Menurutnya, kepemimpinan tidak selalu bergantung pada jabatan formal.

“Tidak perlu menjadi Direktur Kesetaraan untuk mendorong kesetaraan,” ujarnya di hadapan peserta forum, yang pres realese-nya diterima media online siber Nusa-Antara. com, kemarin.

Pandangan senada disampaikan Paul Salahuddin Armstrong. Ia menilai keberagaman masyarakat dunia saat ini menuntut adanya dialog lintas agama dan budaya. Menurutnya, perempuan muda Muslim memiliki posisi strategis untuk menunjukkan bahwa identitas keagamaan dapat berjalan seiring dengan profesionalisme, kontribusi publik, dan komitmen terhadap kemaslahatan bersama.

Pada panel kedua bertema “Women at the Crossroads: Identity, Faith, and Global Influence”, tampil Sahadatun Donatirin, Syeikh Khalifa Ezzat, dan Siti Nurhafiza Shari.

Diskusi pada sesi ini menyoroti pentingnya identitas, nilai keimanan, dan pengalaman hidup perempuan sebagai sumber kekuatan moral maupun sosial. Para pembicara mengajak perempuan muda untuk tetap menjaga akar identitasnya, sembari terus mengembangkan karier, memperluas jaringan, dan aktif dalam percakapan
global.

Syeikh Khalifa Ezzat menegaskan bahwa iman dapat menjadi sumber ketenangan, tanggung jawab, serta kasih sayang dalam kehidupan bermasyarakat. Ia menilai perempuan Muslim muda memiliki peluang besar untuk berkontribusi dalam membangun masyarakat yang damai melalui ilmu pengetahuan, akhlak, dan penghormatan terhadap perbedaan.

Sementara itu, Sahadatun Donatirin yang akrab disapa Dona menegaskan bahwa perempuan Indonesia di luar negeri tidak perlu meninggalkan identitas kebangsaannya untuk dapat berkiprah di tingkat internasional. Nilai-nilai seperti gotong royong, toleransi, dan semangat berkontribusi justru menjadi modal penting dalam membangun karier, diplomasi, maupun peran sosial di masyarakat global.

Ketua PCI Fatayat NU United Kingdom, Kartini Laras Makmur, menyatakan bahwa perempuan muda saat ini hidup di persimpangan berbagai identitas. Namun kondisi tersebut tidak seharusnya menjadi hambatan, melainkan peluang untuk melahirkan pengaruh global yang lebih berakar pada nilai, etika, dan kebutuhan masyarakat.

Forum internasional ini dihadiri perwakilan Fatayat NU dari berbagai negara seperti Jepang, Arab Saudi, Brunei Darussalam, Tunisia, dan Maroko, serta diaspora Indonesia dan komunitas Muslim di Inggris. Secara daring, kegiatan juga diikuti Titi Eko Rahayu yang menyampaikan pidato kunci Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak RI, Arifah Choiri Fauzi.

Forum ini menjadi ruang kolaborasi sekaligus penguatan peran perempuan muda dalam menghadapi berbagai tantangan global, dengan tetap berpegang pada identitas, nilai kemanusiaan, dan semangat membangun masa depan yang lebih inklusif.(gus)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *