PCNU Jombang Soroti Kesejahteraan Guru dan Penguatan Pendidikan Karakter

JOMBANG, MEDIA NUSA-ANTARA.com — Ketua PCNU Jombang, KH. Fahmi Amrullah Hadziq, menyoroti sejumlah persoalan di sektor pendidikan, khususnya terkait kesejahteraan guru serta pentingnya penguatan pendidikan karakter.

Tokoh yang akrab disapa Gus Fahmi ini—cucu pendiri Pondok Pesantren Tebuireng, KH. Hasyim Asy’ari—menyampaikan, hingga saat ini masih terdapat berbagai persoalan teknis di lapangan yang belum terselesaikan secara jelas.

Saat ditemui di kediamannya, Senin (6/4/2026), ia mengungkapkan bahwa sejumlah kebijakan teknis, mulai dari petunjuk pelaksanaan hingga persoalan honor tenaga pendidik, masih menimbulkan ketidakpastian.

“Kalau ini tidak segera dibahas dan diselesaikan, dikhawatirkan akan menimbulkan ketidakpercayaan di tingkat bawah,” ujarnya.

Gus Fahmi juga menyoroti ketimpangan yang dialami para guru, terutama terkait beban kerja yang dinilai tidak sebanding dengan hak yang diterima. Ia menegaskan, kebijakan efisiensi anggaran tidak seharusnya berdampak pada menurunnya kesejahteraan tenaga pendidik.

“Guru memiliki peran sangat penting dalam membentuk generasi. Jangan sampai mereka terbebani, tetapi haknya tidak terpenuhi,” tegasnya.

Lebih lanjut, ia mengaitkan kondisi tersebut dengan tantangan moral yang dihadapi dunia pendidikan saat ini, terutama pascapandemi COVID-19. Menurutnya, telah terjadi penurunan dalam aspek moralitas yang perlu segera diperbaiki melalui sistem pendidikan yang berimbang.
Dalam pandangannya, pendidikan tidak boleh hanya berfokus pada capaian akademik semata, tetapi juga harus memperkuat pondasi karakter.

Ia mengibaratkan pendidikan seperti sebuah bangunan yang membutuhkan pondasi kuat agar dapat berdiri kokoh.

“Kalau pondasinya lemah, bangunan tidak akan bertahan. Begitu juga pendidikan, harus dimulai dari karakter dan moral yang kuat,” jelasnya.

Gus Fahmi juga mengingatkan kembali nilai-nilai yang diajarkan para ulama terdahulu, bahwa adab atau akhlak memiliki posisi lebih utama dibandingkan ilmu semata.

“Dalam tradisi pesantren, adab itu lebih tinggi daripada ilmu. Ini yang harus kita kembalikan dalam sistem pendidikan kita,” tambahnya.

Ia berharap pemerintah daerah, termasuk bupati dan dinas terkait, segera mengambil langkah konkret untuk menyelesaikan persoalan tersebut.

PCNU Jombang, lanjutnya, juga membuka ruang komunikasi dan koordinasi dengan pemerintah guna mencari solusi terbaik. “Semakin cepat diselesaikan, semakin baik. Jangan sampai persoalan ini berlarut-larut,” pungkasnya. (gus/*)




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *