Symphony Batik Jombang 2026, Kolaborasi Desainer Nasional dan Kreativitas OPD Hidupkan Wastra Lokal

JOMBANG MEDIA NUSA-ANTARA.com – Alun-Alun Kabupaten Jombang menjadi panggung kreativitas dan kebanggaan terhadap produk lokal melalui gelaran Symphony Batik Jombang 2026, Selasa (20/10/2026) malam. Bagian dari rangkaian Jombang Fest untuk memperingati Hari Jadi ke-116 Pemerintah Kabupaten Jombang ini menghadirkan perpaduan karya desainer nasional dengan kreativitas aparatur pemerintah daerah dalam balutan Batik Jombang.

Suasana berlangsung semarak ketika beragam motif khas Batik Jombang ditampilkan dalam rancangan busana modern dan elegan. Tak sekadar menjadi ajang peragaan busana, kegiatan ini juga menjadi ruang promosi untuk memperkenalkan potensi batik lokal agar semakin dikenal masyarakat luas dan mampu bersaing di pasar fesyen yang lebih luas.

Salah satu daya tarik utama malam itu adalah penampilan karya desainer nasional, Lia Afif. Melalui sentuhan kreativitasnya, motif khas Batik Jombang diolah menjadi busana dengan gaya modern tanpa meninggalkan karakter lokal yang menjadi identitasnya.

Kolaborasi tersebut menunjukkan bahwa Batik Jombang memiliki peluang untuk terus dikembangkan menjadi produk fesyen yang adaptif terhadap perkembangan zaman, sekaligus memiliki nilai tambah bagi industri kreatif daerah.

Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kabupaten Jombang, Hj. Yuliati Nugrahani Warsubi, yang juga istri Bupati Jombang Warsubi, menyampaikan harapannya agar peragaan busana tersebut semakin membuka ruang pengembangan Batik Jombang.

“Hari ini kita akan mengawali rangkaian acara dengan menampilkan karya desainer nasional, Ibu Lia Afif. Semoga karya yang dihadirkan malam ini semakin memperlihatkan bahwa Batik Jombang memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi busana yang menarik, modern, dan bisa diterima oleh berbagai kalangan,” ungkap Yuliati dalam sambutannya.

Kemeriahan acara semakin terasa ketika panggung peragaan busana diramaikan parade busana dari perwakilan organisasi perangkat daerah (OPD) di lingkungan Pemerintah Kabupaten Jombang.

Para aparatur yang sehari-hari disibukkan dengan tugas pelayanan dan administrasi pemerintahan itu tampil dengan suasana berbeda. Mereka memperagakan beragam padu padan Batik Jombang dengan penuh percaya diri, sekaligus menunjukkan bahwa batik lokal dapat dikenakan dalam berbagai gaya dan kesempatan.

Bagi Yuliati, keterlibatan para pegawai pemerintah tersebut bukan sekadar memeriahkan acara. Momen ini juga menjadi kesempatan untuk mempererat kebersamaan dan membangun suasana yang lebih akrab di luar rutinitas pekerjaan.

“Senang sekali malam ini kita bisa berkumpul dalam suasana yang berbeda. Kalau biasanya kita bertemu untuk membahas pekerjaan dan menjalankan tugas masing-masing, malam ini kita bisa menikmati kebersamaan sambil menyaksikan kreativitas rekan-rekan kita dalam balutan Batik Jombang,” ujarnya.

Ia juga berpesan agar seluruh peserta parade menikmati kesempatan tampil di atas panggung dengan santai dan percaya diri.

“Untuk Bapak dan Ibu yang malam ini akan tampil, selamat menikmati panggungnya. Tidak perlu terlalu tegang. Anggap saja ini kesempatan untuk bersenang-senang, menunjukkan kreativitas, sekaligus memperlihatkan bahwa Batik Jombang bisa dikenakan dengan penuh percaya diri,” lanjutnya.

Di balik kemeriahan peragaan busana, terdapat pesan penting yang ingin disampaikan, yakni membangun kebiasaan menggunakan produk lokal dalam kehidupan sehari-hari.

Yuliati mengajak masyarakat maupun jajaran aparatur pemerintah untuk tidak membatasi penggunaan Batik Jombang hanya pada acara resmi, peringatan tertentu, atau ketika mengenakan seragam dinas.

“Batik jangan hanya kita kenakan saat ada acara resmi, peringatan tertentu, atau ketika diminta memakai seragam. Sesekali, mari kita coba mengenakan Batik Jombang untuk kegiatan sehari-hari,” ajaknya.

Ajakan tersebut menjadi bagian dari upaya menumbuhkan kebanggaan terhadap produk daerah sekaligus memperluas penggunaan Batik Jombang di tengah masyarakat. Semakin luas batik lokal digunakan, semakin terbuka pula peluang bagi para perajin dan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) untuk mengembangkan usaha mereka.

Karena itu, promosi batik tidak cukup berhenti pada penyelenggaraan peragaan busana, tetapi perlu diikuti dengan pembiasaan penggunaan produk lokal secara berkelanjutan.

Melalui Symphony Batik Jombang 2026, Pemerintah Kabupaten Jombang berharap batik tidak hanya menjadi simbol identitas dan kebanggaan daerah, tetapi juga berkembang sebagai produk kreatif bernilai ekonomi yang mampu menggerakkan usaha lokal serta meningkatkan kesejahteraan para perajin.

Dengan perpaduan kreativitas desainer, partisipasi aparatur pemerintah, dan dukungan masyarakat, Batik Jombang diharapkan semakin mendapat tempat di hati publik sekaligus memiliki daya saing di pasar fesyen nasional hingga internasional.
(gus)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *