Workshop Teater Angkat Narasi Sejarah Kelahiran Bung Karno di Ploso, Agus Pamuji : “Wolak Walike Zaman, Banyak Orang Gila”

JOMBANG MEDIA NUSA-ANTARA.com – Malam penutupan Workshop Teater yang digelar di Aula Kesenian, Kantor Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Jombang, kemarin, tidak hanya menjadi ruang belajar seni pertunjukan, tetapi juga sarana menghidupkan kembali narasi sejarah lokal melalui pementasan teater bertajuk Bung Karno Lahir di Ploso.

Kegiatan yang berlangsung hingga malam tersebut mendapat antusiasme peserta, seniman, budayawan, dan tamu undangan lainnya yang hadir.

Ketua Panitia Workshop, H. Nasrul Ilah, dalam sambutan singkatnya menyampaikan apresiasi kepada seluruh peserta, narasumber, relawan, komunitas teater, serta pihak-pihak yang telah mendukung terselenggaranya kegiatan tersebut.

Nasrul yang sehari-harinya akrab disapa Cak Nas ini berharap workshop tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial semata, melainkan menjadi ruang bertemunya kreativitas, pengetahuan dan sebagai pelecut semangat kebudayaan yang terus tumbuh di tengah masyarakat.

“Teater memiliki peran penting sebagai media pendidikan dan penyampai pesan sosial maupun sejarah kepada generasi muda. Karena itu, kami mengajak seluruh peserta untuk terus berkarya dan menjaga semangat kebersamaan yang telah terbangun selama workshop berlangsung,” ungkap Cak Nas.

Pada kesempatan yang sama, anggota Tim Ahli Cagar Budaya Kabupaten Jombang, Arif, memberikan ilustrasi sejarah singkat yang menjadi landasan pementasan teater malam itu. Ia menjelaskan bahwa lakon Bung Karno Lahir di Ploso disusun berdasarkan hasil penelusuran sejarah yang dilakukan sejumlah pemerhati sejarah bersama Tim Ahli Cagar Budaya Kabupaten Jombang.

Berdasarkan hasil kajian tersebut, Soekarno diyakini lahir di Ploso pada 6 Juni 1902, ketika wilayah Jombang masih menjadi bagian dari Kabupaten Surabaya. Narasi sejarah itu kemudian diterjemahkan ke dalam bentuk pertunjukan teater yang menampilkan sejumlah tokoh penting di sekitar peristiwa kelahiran sang proklamator.

Beberapa tokoh yang dihadirkan dalam pementasan antara lain ayah Bung Karno, Raden Soekeni, ibunya Ida Ayu Nyoman Rai, kakaknya Raden Soekarmini, serta sejumlah tokoh masyarakat yang disebut dalam penelusuran sejarah memiliki keterkaitan dengan kelahiran Bung Karno di Ploso.

Melalui pementasan tersebut, para relawan dan pegiat teater berupaya menghadirkan kembali fragmen sejarah lokal dalam bahasa seni yang mudah dipahami masyarakat. Pertunjukan itu sekaligus menjadi penutup rangkaian workshop yang selama beberapa hari mempertemukan peserta dengan berbagai materi keaktoran, penyutradaraan, hingga pengembangan naskah.

Malam penutupan pun berlangsung hangat. Tepuk tangan penonton mengiringi setiap adegan yang ditampilkan para pemain, menandai perjumpaan antara seni pertunjukan dan ikhtiar merawat ingatan sejarah. Bagi para peserta, workshop ini bukan sekadar ruang belajar teater, melainkan juga pengalaman memahami bahwa panggung dapat menjadi medium untuk menjaga jejak sejarah dan identitas budaya masyarakat.

Usai rangkaian penampilan teater dan seni tari, seluruh peserta, tim kreator, sutradara dan panitia diajak sejenak untuk diskusi literasi lewat sarasehan yang dipimpin Cak Nas, yang juga selaku Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Kabupaten Jombang. Dalam sarasehan itu, semua yang hadir diberikan kesempatan bertanya dan otokritik terkait kegiatan Workshop Teater selama dua hari, apa saja kekurangan maupun materi pelatihan yang sudah diberikan maupun penampilan seni drama teater.

“Apa yang sudah diberikan dalam pelatihan dan penampilan teater panggung hendaknya menjadi bahan evaluasi sekaligus pembelajaran kita semua, khususnya pegiat seni dan budaya, bahwa kuwajiban kita adalah menjaga, merawat, memeliharan dan mengembangkan nilai-nilai budaya asli leluhur kita agar tetap eksis di tengah-tengah arus perubahan zaman yang semakin maju dan modern,” tutur Cak Nas dalam pesan pentingnya.

Sementara itu, istimewanya lagi di sela-sela sarasehan berlangsung di penghujung penutupan, Cak Nas memberikan waktu kepada Agus Pamuji yang diundang hadir sebagai pegiat seni dan budaya untuk membacakan puisisasi di hadapan peserta dan undangan. Puisi dengan judul : Wolak Walike Zaman, Banyak Orang Gila membuat para peserta yang hadir dibuat hanyut dalam suasana hening di antara bait puisi yang mengandung kritik sosial, moralitas dan perilaku penyimpangan yang dialami sebagian kaum intelektual dan terdidik, yang justru merusak nilai-nilai etika, moralitas, budaya dan agama yang tidak patut dijadikan suri tauladan di masyarakat luas. (gus)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *