Saling Memaafkan, Bukan Saling Simpan Dengki, Jadilah Manusia Paripurna

EDITORIAL

Oleh : Agus Pamuji

Meminta maaf dan memaafkan itu bukan barang langka, karena tidak harus menunggu momen lebaran Idul Fitri tiba. Sejatinya manusia itu tempatnya salah, khilaf dan dosa setiap saat. Namun, yang terpenting esensi makna dari Idul Fitri adalah memperbaiki kesalahan agar tidak terus terulang, baik ucapan, hati dan perbuatan yang tidak melukai sesama. Sebaik- baik manusia ketika berbuat kesalahan lalu minta maaf, memperbaiki diri dan bertaubat nasuha.

Sebab hakikat kemenangan bukan sekadar kembali pada pakaian baru, hidangan berlimpah, atau tradisi saling berkunjung yang penuh kehangatan. Lebih dari itu, kemenangan sejati adalah ketika hati mampu ditundukkan dari kesombongan, lisan terjaga dari menyakiti, dan langkah kaki diarahkan pada kebaikan yang lebih bermakna, apalagi setelah menjalani proses tirakat tingkat tinggi 30 hari di bulan suci Ramadan.

Memasuki hari raya Idul Fitri ini merupakan momentum penyucian jiwa. Ia mengajarkan bahwa setiap manusia memiliki kesempatan yang sama untuk kembali bersih, kembali jernih, seperti bayi yang baru dilahirkan. Namun kesucian itu tidak datang dengan sendirinya. Ia harus diperjuangkan—melalui keikhlasan mengakui kesalahan, keberanian meminta maaf, serta ketulusan memaafkan tanpa menyisakan dengki dan dendam

Dalam kehidupan yang kian riuh oleh ego dan kepentingan karena jabatan, pangkat dan kedudukan sehingga memaafkan menjadi ibadah yang tidak ringan.

Ada luka yang dalam, ada kecewa yang membekas, bahkan ada pengkhianatan yang sulit dilupakan. Tetapi di situlah letak kemuliaannya. Ketika seseorang mampu memaafkan bukan karena lupa, melainkan karena ingin membersihkan hatinya demi ridha Ilahi, maka saat itulah ia telah naik satu derajat lebih tinggi dalam kemanusiaan dan keimanan.

Kita pun diingatkan bahwa dosa kepada Tuhan YME dapat diampuni dengan taubat, namun kesalahan kepada sesama hanya akan tuntas bila ada kerelaan hati untuk saling memaafkan. Maka Idul Fitri bukan sekadar tradisi, melainkan panggilan nurani—untuk merajut kembali hubungan yang retak, menyambung silaturahmi yang terputus, dan menghangatkan kembali hati yang sempat membeku.

Lebih jauh, semangat Idul Fitri hendaknya tidak berhenti pada satu hari perayaan. Ia harus menjadi napas dalam setiap langkah kehidupan. Menjadi kompas moral dalam bekerja, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Karena pada akhirnya, manusia terbaik bukanlah yang tak pernah salah, melainkan yang paling tulus memperbaiki diri dan paling lapang dalam memaafkan.

Semoga di hari yang fitri ini, kita tidak hanya kembali pada kesucian, tetapi juga mampu menjaganya. Menjadi pribadi yang lebih arif dalam berkata, lebih bijak dalam bersikap, dan lebih lembut dalam memperlakukan sesama.
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1447 H
Taqabbalallahu Minna Wa Minkum,
Minal ‘aidin wal faizin, mohon maaf lahir batin atas salah dan khilaf.
Selamat kembali ke fitrah, semoga hati kita benar-benar sejuk dan bening. (*)

Penulis adalah :
1. Wapimred Media Nusa-Antara. Com.
2. Wartawan SKH Balikpapan Pos, Kaltim 2002-2020.
3. Ketua DPD Ikatan Wartawan Online (IWOI) Kabupaten Jombang 2024-2029.




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *